Send a Message
to Indoneisa sejati

Comments

696

Joined

Oct 7, 2010

Indoneisa sejati Profile

Forums Owned

Recent Posts

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

MERDEKA ! ! !  (Jan 28, 2013 | post #413)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

selingan yang bikin ngakak Ancaman serius bknlah scorpane,krna ia adlh kapal permukaan .. Yg paling mnakutkan adlah KD pari ,kpl permukaan yg pandai mnyelam hingga ke dasar samudera.. Dan pesawat super siluman f 5 tanpa engine,,bisa di bayangkan betapa senyapnya pesawat ini,, jg kursi lontar sukhoi,,konon pilot tudm hnya butuh kursi lontar utk peperangan udara,,krna itu pd wktu di hanggar,dan siap utk take off,,pilot tudm lngsung tekan tombol eject,,dan melanglang buana ke angkasa,,pesawat sukhoi pun di tinggalkan krna di rasa kurang efektif,,gmn skrg?msihkah kita tega lawan tentara pondan nan gila itu?  (Jan 27, 2013 | post #411)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Besok paginya, ternyata si anak masih ada di samping anggota tadi masih tertidur sambil menggenggam granat.... Setelah di bangunkan langsung ditanya "Kenapa kau tak mau lari?!!" Dia menjawab "Tidak papa, aku mau ikut tentara saja....aku mau sekolah, nanti kalau papa pulang ke jawa.. tolong ajak aku juga ya papa" (ternyata pulau jawa saat itu menjadi primadona di pulau-pulau lainnya untuk mengadu nasib). Anggota peleton tadi cuman senyum sambil nepuk bahu itu fretilin ABG tanpa berkata apapun... kemudian keluar dari bivak. Di luar bivak... teman-temannya langsung maki-maki tuh anggota... "DIAMPUT !! koen iku gendeng tah... arek dike'i granat!!" (Diamput !! loe itu dah gila yah... anak dikasih granat !!) "Coooook !! wis bosen urip tah koen iku ?!" (Cooook !! udah bosen hidup loe !!) "POKEH awakmu iku ndu!!" ("semacam umpatan dalam bahasa madura, macam Jancok" loe tuh bro!!") "WONG EDIIAAN !! ("ORANG GILAA !!") itu anggota cuman tersenyum sambil berjalan menuju sungai buat mandi.  (Jan 23, 2013 | post #408)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Berikut sebuah kisah dalam penugasan di Timor Timur dalam Operasi Seroja yang diceritakan Bapak seorang formil kaskuser, Alexander Hagal. Okay ane mau cerita mengenai orang yang di atas ini... menurut bapak ane, ini adalah salah satu satu anggota peleton yang paling "badass" .. bahkan rekan-rekannya yang lain bilang ini orang agak "ngawur" , kayaknya urat takutnya sudah putus, tetapi meskipun begitu ini orang dasarnya baik kok... hatinya lembut, gampang tersentuh. Pernah suatu kali peleton bapak ane menangkap 1 orang anggota fretilin hidup-hidup setelah terjadi kontak tembak selama beberapa jam...... Pasukan menangkapnya di bawah rerimbunan semak-semak sedang tiarap sambil menutup kepalanya dengan kedua tanganya (sepertinya ketakutan). Ketika anggota fretilin ini diperintahkan membalikkan badan dari kejauhan sambil ditodong lusinan M16.... Anggota fretilin ini mengangkat tangannya sambil menangis memohon jangan ditembak, semua pasukan heran "kok tumben ada anggota fretilin yang nangis waktu ditangkap??" (kebanyakan cuman masang raut muka tegang dan nggak ngomong sama sekali, kalau dah begini yaa langsung "disekolahkan "). Ketika tawanan ini berjalan mendekat... Terlihat jelas sekali kalau umur anggota fretilin ini masih sangat muda sekali (ABG) sekitar 15-17 tahun, langsung nih tawanan di bawa ke base camp... Di base camp ini anak gak diapa-apain, cuman di suruh duduk, dikasih makan, dikasih minum, ketika dikasih rokok dia menolak...... Setelah terlihat lebih tenang, orang yang di foto atas itu melontarkan beberapa pertanyaan sederhana. - Anggota peleton : "Namamu siapa??" - Fretilin ABG :"Alfredo papa..." (semua tentara laki disana dipanggil papa oleh orang tim-tim) - Anggota peleton : "Dimana rumahmu?? Siapa nama komandanmu?? (si tawanan cuman membisu... terlihat khawatir, ditunggu beberapa menit tak menjawab...pertany aan dilanjutkan)... Kenapa kau mau bergabung dengan fretilin?? Bukankah lebih enak kau pergi kesekolah atau membantu bapak, emak kau ke ladang??" - Fretilin ABG : (eeh setelah bapak emaknya disinggung dia langsung nangis sesenggukan) "Ampun papa....ampuni saya papa....jangan tembak saya papa, bapak aku sudah meninggal.....aku cuman tinggal dengan mamak-ku dan adik-adik-ku papa....kalau aku mati siapa nanti yang membantu mamak-ku dan mencari makan buat adik-adikku" (sambil terus menangis sesenggukan) - Anggota peleton : "Terus kenapa kau ikut fretilin??!!" - Fretilin ABG : "Mereka bilang kalau aku ikut fretilin, aku akan dapat banyak uang papa....katanya dengan uang itu aku bisa menyenangkan emak-ku dan adik-adikku (masih menangis).. ampuuuun papa jangan bunuh saya, jangan bunuh saya" (tambah meraung-raung nangisnya, beberapa anggota peleton terlihat terenyuh melihat pemandangan itu, termasuk bapak ane) - Bapak ane : "Wis-wis ojo diapa-apakno....ko ngkonen masak ae, mene di gowo nang Dili" (udah-udah jangan diapa-apain....sur uh masak aja, besok dibawa ke Dili) - Anggota peleton : "Udah -udah jangan nangis, lain kali kau tak usah ikut-ikutan fretilin lagi...buat apa?! mereka bohong sama kamu ... kamu nggak akan dikasih uang sama mereka ... ramos horta bohong sama kamu, percaya sama saya !! Udah sana masak, masak apa saja" (tanpa khawatir diracuni atau apalah..) Setelah hari makin larut..... Sebagian pasukan yang nggak dapat giliran jaga memilih untuk beristirahat.. Termasuk fretilin ABG ini, dia di ajak tidur di samping anggota peleton badass..... Dan GILA-nya lagi, ini fretilin ABG dikasih granat aktif ditangannya dan dibilangin gini : "Ini saya kasih Granat !! kalau kamu nggak percaya sama tentara... Kamu boleh lari, kamu boleh bunuh saya atau teman-teman saya dengan granat ini... Tapi nanti kalau kamu tertangkap, akan langsung kami tembak di tempat..... Terserah kamu" (sambil membalikkan badan dan kembali tidur, tanpa ada perasaan takut atau khawatir.... yaa tentu aja semua temannya langsung keluar dari bivak dan memilih tidur di tempat lain).  (Jan 23, 2013 | post #407)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

''Tersentuh proyektil ini, orang bisa langsung terjengkang dan pusss... mati. Tetapi, benar-benar aneh,'' kata Jafri. Si GAM tak kunjung ditemukan. ''Saya muter-muter, mencari di semak-semak, di tepian, tak juga ditemukan. Ke mana mayatnya, hilang,'' akunya. Prajurit TNI ini tak habis pikir. Entah dari mana mereka memiliki ilmu seperti itu. Tidak diketahui secara persis.  (Jan 22, 2013 | post #406)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Mayjen Walter Walker dikabari pukul 2 malam waktu setempat, bahwa Tawau telah diduduki. Ia melakukan inspeksi sendiri ke lokasi pertempuran di Kalabakan pada pagi harinya. Walker juga dikabari bahwa Tunku Abdul Rahman sudah mengetahui kejadian penyerangan di Kalabakan, dan mengumumkan akan berangkat ke Sabah dan langsung ke Tawau untuk observasi lapangan lebih lanjut. Itu merupakan penyerangan terbuka pertama, perang pertama antara Indonesia-Malaysia . Mendengar hal ini, Mayjen Walker langsung minta diterbangkan ke Kinabalu- saat itu bernama Jesselton- untuk mengunjungi Tunku. Disana ia bertemu Inspektur Jenderal Polisi Claude Fenner yang telah tiba lebih dulu. Walker lalu memberitahu Fenner segala sesuatunya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, juga termasuk peringatan yang sudah diumumkan oleh Glennie jauh-jauh hari sebelumnya dan juga mengenai pasukan 3rd RMA yang payah. Walker memutuskan akan menceritakan segala fakta pada Tunku, tapi ditahan sejenak oleh Fenner. Fenner yang mengenal Tunku dengan sangat baik, tahu bahwa Tunku memiliki rasa ego yang tinggi. Tunku pasti tidak akan percaya bahwa prajurit pribumi melayu, yang dikenal hebat, ternyata takluk dan dapat dikalahkan oleh prajurit Indonesia dengan stanpa perlawanan yang berarti. Atas nasehat Fenner, Walker akhirnya memoles ceritanya. “Pasukan Indonesia melakukan penyerbuan dengan gerakan merapat dengan sangat baik, memanfaatkan hutan-hutan disekitar wilayah Kalabakan, dan melakukan penyerangan mendadak dalam jumlah yang sangat besar, kira-kira satu batalion, perlawanan pasukan Malaysia yang kalah jumlah berlangsung sampai titik darah penghabisan!” , dari sinilah, maka disebutkan bahwa Kalabakan diserbu oleh satu batalion prajurit KKO, padahal faktanya para penyerang hanyalah berjumlah tidak lebih dari tiga regu. Tunku yang mendengar hal tersebut merasa terharu dan tergerak hatinya, dan saat menjenguk prajurit yang selamat di Tawau, Beliau memberikan para prajurit tersebut sejumlah uang, serta mendirikan monumen baru- untuk mengenang peristiwa penyerangan tersebut- yakni; Monumen Kalabakan.  (Jan 16, 2013 | post #400)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

selingan ringan, Nostalgia Pertempuran di Kalabakan Harus diakui, dari sekian banyak kegagalan penyusupan sukarelawan Dwikora ke perbatasan, kesuksesan penyerbuan dan penyerangan ke Kalabakan merupakan suatu catatan gemilang bagi pihak Indonesia. Namun, ada sejumlah fakta menarik yang tak banyak diketahui publik, seperti dikisahkan sendiri oleh Mayjen Walter Walker dalam otobiografinya, :Fighting General. The Public and Private Campaigns of Sir General Walter Walker.” Alkisah, sebenarnya pendadakan di Kalabakan tidak perlu terjadi, karena sudah ada peringatan sebelumnya dari Brigadir Jenderal Glennie, Deputy Director of Operations. Glennie yang gemar menyusuri anak sungai di Kalimantan dapat membaca, kalau Tawau yang memiliki banyak industri perkebunan dan 3/5 populasinya adalah warga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), merupakan wilayah atau tempat strategis yang dengan mudah dapat didadaki. Lima kompi digelar dan diterjunkan Indonesia di Pulau Sebatik. Reputasi serta keahlian tempur prajurit Indonesia yang cukup membuat ngeri, membuat Glennie memberikan peringatan waspada bagi prajurit 3rd Batt, Royal Malay Regiment (RMA) dan satu kompi King's Own Yorkshire Light Infantry yang saat itu menjaga Tawau. Karena Royal Navy memiliki destroyer yang memiliki radar di lepas pantai Tawau, Brigjen Glennie bisa membaca bahwa arah serangan nantinya akan datang bukan melalui wilayah laut, melainkan dari wilayah rawa yang sulit dijaga. Sayangnya, 3rd RMA yang baru tiba di Tawau tidak mengikuti perintah Glennie. Saat 35 KKO dan 128 sukarelawan menyeberangi perbatasan, tujuan awal mereka memang menyerang Kalabakan di sebelah barat dan kemudian menunggu dukungan dari TKI yang bekerja disana untuk bergabung bersama dan menduduki Tawau. Strategi popular uprising, yang merupakan gaya komunis ini didasarkan pada laporan intelijen yang terlalu berani dan cenderung mengarah ke ilusi. Setelah delapan hari melintasi rawa, pada 29 Desember pasukan KKO tiba di tepi hutan di sekitar Kalabakan, dan siap untuk melancarkan serangan. Kalabakan sendiri hanya diperkuat di dua posisi, satu pos polisi di tepi sungai yang mengarah ke Cowie Harbour dan dua gubuk milik RMA. Pos polisi yang diperkuat oleh barikade kawat berduri dan kantung pasir dijaga oleh 15 personel. Sementara itu RMA memiliki kekuatan satu peleton dan dua seksi. Bodohnya, gubuk-gubuk ini tidak diperkuat oleh karung-karung pasir yang setidaknya bisa menghentikan laju peluru. Saat malam tiba, prajurit 3rd RMA juga tidak disiplin. Sebagian besar bersantai, ada yang sedang makan, membaca buku, mencuci baju, dan tidak ada personel yang berpatroli. Tepat pukul 11 malam, para prajurit KKO yang bergerak dalam senyap mencabut pin granat dan melemparkannya melalui lubang jendela yang terbuka lebar, lalu dengan cepat menghujani kedua gubuk tersebut dengan tembakan senapan serbu AK-47. Delapan prajurit Malaysia yang sama sekali tak sigap, terlambat bereaksi, dan akhirnya tewas seketika diberondong peluru, termasuk komandan kompi, 19 prajurit Malaysia lainnya terluka sehingga tak mampu melawan. Kelompok KKO lain yang menyerang pos polisi tidak seberuntung serangan pertama, karena para prajurit yang berjaga dapat mundur ke pos mereka yang memiliki pertahanan baik dan lalu menyerang dari dalam. Kelompok lain yang menyerang perusahaan kayu menemukan kantor dalam keadaan kosong, lalu menjarah apa saja yang ada didalamnya, termasuk wiski. Sementara itu, sang manajer perusahaan kayu kabur dan lari ke markas 3rd RMA yang baru diserang, dan meminta para prajurit Malaysia untuk menyerang balik, tapi mereka terlalu takut dan memilih bersembunyi. Tak sampai satu jam, seluruh penyerang undur diri ke rawa-rawa di sekitar Kalabakan dan menunggu pergerakan rakyat Indonesia untuk merebut Tawau. Seandainya saja para penyerang langsung bergerak maju ke Tawau, akhir ceritanya pasti akan berbeda.  (Jan 16, 2013 | post #399)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

mantap Gan, kalo Pak Prabowo jadi presiden besok, jangan harap malingsia berani macam2 dengan RI  (Jan 8, 2013 | post #387)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Duuuhhhh, ente kemane aje gan? di awal trit ini udah ane ulas panjang lebar x tinggi mengenai semua hal tentang pasukan Rajawali ini. ini pasukan tempur yang paling ditakuti, sampe2 tentara ausie yang gabung di interfet langsung lari terbirit2 hanya karena diteriaki oleh tentara ini, ini kisah nyata bro. so, baca lagi dari awal ya, nyante aja bacanya, belanda masih jauh kok.  (Jan 4, 2013 | post #384)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Saat disuruh berhenti dan angkat tangan, ketiga orang itu segan melakukannya. Pelan-pelan mereka mundur ke bahu jalan. Salah seorang di antaranya berusaha meraih sesuatu di kantong plastik yang dijinjingnya. Belum sempat, tembakan menggema. Keadaan gelap. Yang tidak melihat dengan baik ketiga orang itu ikut menembak. Tembakan berhenti. Begitu didekati, ternyata masih ada seorang yang hidup. Tak sedikit pun badannya lecet akibat tembakan beruntun itu. Rupanya, dia menenggelamkan badan di gundukan tanah di pinggir jalan. "Sekolahkan saja. Siapa yang mau?" komandan peleton itu menawari anak buahnya. Dia yakin ketiga orang itu GAM. Di kantong plastik tadi anak buahnya menemukan sebuah pistol rakitan. Dari belakang, seorang serdadu muda bergegas. "Danru .... Danru .... biar saya." Tawanan itu diminta berjongkok. Sebutir peluru menembus kepalanya, "Crook .... crookk." Darah muncrat dari kepala. Mengira masih hidup, serdadu muda itu mengarahkan larasnya ke punggung korban. "Tak-tak-tak. " Tiga peluru 5,56 milimeter bersarang. Setelahnya, komandan regu minta serdadu muda itu untuk mencicipi darah orang yang ditembaknya. Ada kepercayaan di kalangan tentara (dari Makassar) bahwa mencicipi darah orang yang telah dibunuh akan menghilangkan bayang-bayang wajah korban yang bakal menghantui. Saat pulang ke pos, serdadu muda itu mengeluh ke komandan regunya. "Danru, perut saya mual." "Kau minum apa tadi?" "Darah itu," katanya seraya menunjukkan ukuran darah yang diminumnya: dua genggaman tangan!  (Jan 4, 2013 | post #383)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Sebelum pengendapan, separuh regu sudah melakukan pengintaian medan, sore harinya. Separuh kekuatan masuk. Menjelang malam, separuh dari serdadu yang berangkat mengintai medan kembali menjemput sisa pasukan. Di tempat pengendapan, biasanya di pinggir desa, mereka akan membuat formasi bersaf. Ujung empat orang, tengah empat orang, ujung satu lagi empat orang. Ujung ke ujung disambung dengan tali. Tali itu jadi sarana komunikasi utama selama pengendapan yang wajib hukumnya senyap dan tak boleh ada cahaya. Anda harus jeli kalau lewat di depan tempat pengendapan dan tahu kalau tiga-empat meter dari tempat Anda berdiri ada serdadu yang tengah membidikkan larasnya ke wajah Anda. Mereka memang dibekali cat wajah untuk penyamaran. Warnanya ada yang hitam, coklat, abu-abu, dan hijau. Rajawali bukan barang asing bagi seisi hutan. Kalau lagi mengendap, burung pun kadang lupa kalau yang dihinggapinya itu punggung manusia. Rajawali dikenal dengan kesabaran dan keuletannya. Mau panas mau hujan, mereka akan tetap di tempat pengendapannya sampai ada perintah pemindahan BOD. "Hujan kawan. Panas kawan," kata seorang serdadu menirukan doktrin prajurit infanteri. Rajawali telah dididik untuk menembak tepat: titik-bidik-titik- kena. Latihannya banyak. Ada tembak jarak, ada tembak reaksi. Tembak jarak, mereka dididik untuk menembak sasaran berdasarkan aba-aba pelatih. Saat pelatih meneriakkan "Dua 50" misalnya, serdadu mesti menembak sasaran 50 meter dari posisinya, arah jam dua. Ya, kurang lebih miriplah dengan gaya jejaka kota membisiki rekannya kalau ada gadis cantik yang berdiri di suatu tempat. Tembak reaksi lain lagi. Di sini mereka dilatih menembak skip bergerak dan statis, muncul sesaat lalu tenggelam. Skipnya selalu tiga berdampingan: pak haji, pemuda berpakaian loreng dan perempuan berjilbab. Salah satu dari tiga orang itu bersenjata. Hanya mata yang awas yang bisa menembak tepat. Salah dihukum. Hukumannya, menembak lesan hingga amunisi dalam dua boks peluru habis. Satu boksnya sekitar 1.500 amunisi. Seorang kopral kepala yang pernah ikut pendidikan Rajawali pada 1996 bercerita saat latihan dulu Prabowo Subianto menyediakan tiga truk amunisi tajam. Katanya, biaya latihan untuk 2.000 orang waktu itu sampai Rp 5 miliar. "Memang yang harus jadi pimpinan di militer itu orang kaya." Bagi pasukan Rajawali, anggota Kopassus utamanya, menembak dengan peluru tajam bukan hal asing. Tiap hari di markas latihannya ya itu: menembak, menembak, dan menembak. Kalau tidak menembak sambil tiarap, ya menembak sambil duduk, atau menembak sambil berdiri, atau menembak sambil berlari. Seorang prajurit Kopassus sampai bilang ke saya, "Mas kalau ada keluarga yang mau dagang kuningan datang saja ke Serang. Selongsong di sana tinggal disekop." Mereka yang pernah ikut pendidikan Rajawali akan menempelkan brevet Rajawali di seragamnya. Brevet itu bergambar burung rajawali bermata merah sedang mencengkeram sebilah pedang. "Brevet ini pakainya saja yang gagah. Tapi tugasnya .... alamak!" Jadi prajurit Rajawali memang susah apalagi kalau komandannya gemar kontak senjata. Saya pernah bertemu seorang komandan pos Rajawali yang sikapnya membuat 30 orang anak buahnya tak pernah bisa istirahat tenang dalam seminggu. "Di pantatnya seperti ada paku. Maunya masuk 'kolam terus,'" kata seorang serdadu. Sayang, saya tak bisa akrab dengan komandan itu. Persoalannya sederhana. Dia alergi melihat di leher saya selalu tergantung kartu pers. "Tutup-tutup ini .... saya risih banyak pelanggaran HAM," katanya saat saya duduk di dekatnya suatu waktu. Entah pelanggaran hak asasi mana yang dimaksudkannya. Tapi dari seorang anak buahnya, saya mendengar cerita suatu malam pasukannya mengendap di wilayah Babah Aweh, kecamatan Jaya. Ada tiga orang yang melintas di tempat pengendapan. Mereka terkejut begitu mengetahui ada belasan tentara tiarap di pinggir jalan.  (Jan 4, 2013 | post #382)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

Di antara empat gubuk pembuatan senjata itu, tentara menemukan seperangkat komputer, printer, dan genset. Saya tak habis pikir bagaimana GAM mengangkat genset raksasa itu melewati rawa. Mereka tinggal di empat gubuk yang letaknya berdekatan. Gubuknya memang memprihatinkan. Saya mengira orang yang tinggal di situ termasuk di antara mereka yang meyakini kalau usia Aceh merdeka tinggal sebatang rokok lagi. Tiang-tiangnya dari batang-batang kayu seukuran betis anak kecil. Atapnya dari daun rumbia. Nyamuknya tak usah ditanya. Markas itu punya sistem pengamanan berlapis. Ada tiga pos tinjau yang masing-masingnya memiliki pemancar radio. Melihat barang yang berceceran di gubuk itu saya mengira ada beberapa remaja yang menghuni dan melarikan diri begitu tahu ada tentara. Saya menemukan banyak bungkus rokok Marlboro, botol splash cologne, minyak rambut, dan lain-lain. Saya juga menemukan selembar kartu nama John Aglionby, koresponden harian The Guardian untuk wilayah Asia Pasifik. Selesai masuk rawa, telapak kaki jadi pucat. Kerutan itu baru bisa hilang setelah dua hari. Saat itu saya memakai sepatu lars. Larsnya kesempitan. Untuk ukuran kaki 42 mestinya lars nomor tujuh sementara lars yang saya pakai nomor enam. Jadinya, kaki terkungkung. Tumit lecet dua-duanya. Lecetnya bersusun-susun. Luka di atas luka. "Ah, itu belum biasa saja," kata seorang serdadu menertawakan. Masak dan makan bersama adalah hiburan satu-satunya bagi Rajawali selama "masuk kolam." Serdadu biasanya masak dengan misting. Satu misting-seukuran dua batu bata ditumpuk-untuk empat orang. Apinya lebih sering pakai kayu bakar (pembagian parafin jarang ada). Masaknya hanya pagi dan sore. Supaya asapnya tak mencolok, di atas misting ditutupi dahan, biar asapnya menyebar. Kalau pagi, supermie jadi sayurnya. Kalau ada bayam yang ditemui di kampung-kampung, pakai bayam. Kalau ada tewel (nangka muda) dan kelapa, menu sedikit membaik. Kelapa diparut untuk diperas diambil santannya untuk dimasak dengan nangka muda. Parutnya kaleng sarden yang dilobang-lobangi dengan paku. Ikan keringnya digoreng di atas wajan kecil. Untuk mengulek sambel, terasi bakar dan cabai dimasukkan ke kaleng sarden dan digerus dengan kayu. Makan saat begitu sedap, bisa sampai keringatan. Semua memang enak kalau perut keroncongan. Serdadu Indonesia kalau tak merokok sehabis makan mukanya sumpek. Kalau rokok sudah habis, akal mereka jadi panjang. Serbuk teh digulung dengan kertas apa saja sebagai pengganti rokok. Mengepul juga. Urusan minum, biasanya dua sampai tiga gelas dipakai untuk semua mulut. Mereka sudah biasa dan itu urusan kecil. Kalau ada teman sakit parah, semuanya merawat. Ransel si sakit dicopot dan isinya dibagi rata ke yang sehat. Sakitnya Rajawali tak jauh-jauh dari tipus, turun bero, bahu keple, dan gatal-gatal. Jika Basis Operasi Depan (BOD) pindah, Anda sukar menemukan jejak Rajawali. Semua sampah ditanam. Bekas galiannya ditutupi dedaunan sehingga tanah seolah tak pernah diinjak lars. Kalau di tengah hutan Aceh Anda mendengar SS-1 menyalak dua-dua kali, itu tembakan khas Rajawali. Kalau ada "Purpa" (Pertemuan Perjumpaan), setiap serdadu akan mengejar sasaran seperti orang kesurupan. "Ciiiiihuuuyy yy!" "Ciiiiihuuuyy yy!" "Ciiiiihuuuyy yy!" "Ciiiiihuuuyy yy!" "Ciiiiihuuuyy yy!" "Ciiiiihuuuyy yy...!" Sambil berteriak, mereka berlari zig zag, mendekati sasaran. Tapi larinya hanya sebentar-sebentar. Tiga detik tiga detik. Mereka mengantisipasi musuh yang bisa membidik sasaran hanya dalam tempo tiga detik. Sekali masuk kolam, Rajawali kadang tahan sampai 15 hari. Selama itu mereka diharamkan jalan di jalan setapak apalagi beraspal. Mereka dilarang menemui penduduk. Selama itu, mereka akan mengecek setiap sasaran-duga yang sudah digariskan dalam perintah operasi. Kadang, mereka akan mengendap di tempat-tempat tertentu yang berdasarkan informasi intelijen sering dilewati GAM.  (Jan 4, 2013 | post #381)

Satuan Tugas Rajawali Kompi Pemburu

DI Aceh, tugas utama mencari ikan di kolam-kolam tanggung jawab Pasukan Pemburu Rajawali. Ini tentara terlatih dengan kualitas fisik prima, yang memang dilatih khusus untuk mengejar GAM. Mereka didoktrin untuk rajin jalan, waspada, dan jeli. Ada yang menyebutnya Pasukan Sayap Lebar. Isinya gabungan prajurit Kostrad dan Kopassus. Saat ini, sekitar 2.000 orang Rajawali di Aceh disebar dalam lima datasemen tempur dari hanya dua datasemen pada 1999. Naluri tempur mereka di atas rata-rata. Mereka dibekali latihan militer yang sebelumnya hanya didapat anggota Kopassus seperti mengesan jejak (pelatihnya antara lain orang Dayak), sermujam (serangan amunisi tajam), mobud (mobil udara), dan perang rawasuntai (rawa laut sungai dan pantai). Rajawali terbiasa bergerak dengan jumlah kecil. Satu regu, delapan sampai 12 orang. Jika ada pasukan yang jalan di hutan-hutan Aceh membawa ransel besar, bisa dipastikan itu Rajawali. Jika Anda melihat tentara yang berbelanja di pasar-pasar Aceh dengan dompet terbungkus plastik atau tidur dengan sarung sambung (dua sarung dijahit jadi satu), itu pasti Rajawali. Mau tahu isi ranselnya? Jika hendak "masuk kolam" lebih dari seminggu, biasanya di setiap ransel itu ada satu setel pakaian loreng cadangan, kaos kaki dua sampai tiga pasang, celana dalam sebanyak-banyaknya , kelambu kepala, matras kedap air, dan sarung sambung. Untuk logistik, mereka menyiapkan dua kilogram beras per orang, ikan kering setengah kilogram, supermie 30 bungkus, kecap botol kecil, saos botol kecil, minyak goreng botol kecil, bawang, terasi, garam, gula, kopi atau teh, sendok, piring dan gelas plastik. Selain itu, tiap-tiap serdadu membawa tali perorangan 10 meter dan tali tubuh lima meter. Tali itu diperlukan kalau misalnya pasukan harus berenang di sungai deras atau meluncur dari ketinggian tebing. Bintara pembawa radio biasanya menambahkan 20 biji baterai cadangan ke ranselnya. Jika ditotal-total, beratnya ransel bisa mencapai 25 kilogram. Berat, cukup membuat bahu keple dan kulit terkelupas. Bila beban berat, jarak yang mereka tempuh relatif dekat. Untuk 10 hari, mereka ditargetkan memeriksa sasaran duga yang total jaraknya 10 kilometer. Praktis dalam sehari, pasukan hanya jalan satu kilometer. Demi kehati-hatian, seringkali jarak 100 meter ditempuh hingga satu jam. Sekalipun rutenya pendek, tapi medan di Aceh Barat seringkali tidak mendukung. Untuk sampai ke sasaran, mereka kadang harus menggergaji beberapa bukit, berenang di sungai lebar, dan masuk rawa. Dan kalau sudah rawa atau sungai, alamak .... siksaannya luar biasa. Saya pertama kali masuk rawa di Peulanteu, kecamatan Samatiga. Rawa itu baru bisa ditembus setelah jalan dua jam. Namanya jalan di rawa yang tak ada embusan angin dan ada pelat baja 10 kilogram di dada, badan jadi keringatan. Peluh menetes dari setiap pori, di kepala, di belakang telinga ..... Bila itu berlanjut, tetesannya akan membuat mata perih. Jalan makin jauh, keringat sudah tidak asin lagi. Badan ini sudah kekurangan cairan. Para serdadu seperti tak mempedulikan lagi badan yang tenggelam hingga dada di rawa. Mereka berkonsentrasi menjaga agar SS-1 tidak masuk lumpur. Senjata mereka akan macet kalau kena lumpur atau terendam air. Gerak mereka jadi lebih lambat. Hanya Tuhan yang tahu apa jadinya kami jika ada gerilyawan GAM yang menghadang di rawa itu. Soalnya, mau sembunyi di mana? Tidak ada perlindungan yang aman di tengah rawa. Soal lintah tak usah ditanya. Lintah ada di sela-sela jari kaki, di betis, di paha, di perut, di selangkangan, dan bahkan menempel di penis. Kalau sudah mengisap darah, dia baru jatuh sesudah menggelembung sebesar jempol kaki, dari hanya seukuran satu ruas kelingking. Tapi siapa sangka, di tengah hutan rawa itu ada markas pembuatan senjata rakitan GAM. Di situ ditemukan puluhan senapan rakitan setengah jadi, ratusan bendera dan kartu anggota GAM.  (Jan 4, 2013 | post #380)