Send a Message
to Ayam Belanda

Comments

162

Joined

Jul 25, 2012

Ayam Belanda Profile

Forums Owned

Recent Posts

Heran. Indon negara pulau tapi tak punya kapal selam

kasihan indon  (Sep 24, 2012 | post #8)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

indon pura-pura gila he he he kami tau maki hamun memang perangan indon.. kesihan indon  (Sep 23, 2012 | post #1221)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

indon indon dah naik gila menghadapi kenyataan.. kesian indon dah mula maki hamun.. kesian indon he he he  (Sep 23, 2012 | post #1216)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

kesian indon terus stress  (Sep 23, 2012 | post #1207)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Hidup Yindonesia.. he he he  (Sep 21, 2012 | post #1131)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

indon sekor ni telah mengalami stress yang tinggi .. hidupnye tertekan.. mungkin kerosakan otaknya telah melebihi 90 praatus.. melebihi tahap gila... organ-organ luaran telah di jangkiti penyakit kusta.. kesian indon ni..  (Sep 21, 2012 | post #1129)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

he he he Yin-yin...  (Sep 21, 2012 | post #1128)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Soal BBM, RI Bisa Belajar Dari Malaysia Kenaikan harga BBM tak bisa dihindari. Hanya saja, mesti diikuti jalan keluar. Minggu, 26 Februari 2012, 13:04 Antique, Bobby Andalan (Bali) Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina (VIVAnews/ Muhamad Solihin)BERITA TERKAIT Pemerintah Pusing Pikirkan Formula Harga BBM BBM Naik, Sultan Usul Ada Dana Jaminan Sosial BBM Naik, Harga Properti Akan Ikut Tinggi? BBM Naik, Daya Beli Rumah Bisa Turun Dana BLT Sebaiknya Dialihkan ke Infrastruktur VIVAnews - Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Adi Putra Darmawan Taher mengingatkan bahaya yang mungkin timbul jika bahan bakar minyak (BBM) tidak dinaikkan. Kendati demikian, ia meminta kepada Badan Urusan logistik (Bulog) untuk membuat pengaman stabilitas harga bahan pokok. "Harga minyak sekarang sudah di atas US$100 per barel, sedangkan APBN-P kita mematok harga US$90 per barel sehingga keseimbangan budget terganggu," tutur Adi di sela Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Partai Golkar Bali, di Sanur, Denpasar, Bali, Minggu 26 Februari 2012. Anggota DPR dari Partai Golkar itu mengakui, kenaikan harga BBM tak bisa dihindari. Hanya saja, jalan keluar yang harus diambil pemerintah yakni mengeluarkan kebijakan untuk memberi kompensasi kepada mereka yang terkena dampak langsung atas kenaikan harga BBM tersebut. Menurutnya, rencana kenaikan BBM mesti diiringi dengan skenario memberlakukan kembali pemberian Bantuan Tunai Lansung (BLT). Namun, untuk jangka panjang BLT bukan solusi tepat. "Kalau mau kirim langsung kepada yang berhak melalui penyaluran rekening, tidak lewat birokrasi," kata Korwil Pemenangan pemilu Bali, NTB dan NTT Partai GOlkar itu. Selama ada disparitas harga di pasaran, urai dia, pasti akan ada penyelewengan. Selain itu, jelas dia, Partai Golkar melihat skema kenaikan BBM yang dilakukan Malaysia bisa dijadikan contoh oleh Indonesia. Meski menaikkan harga BBM, Malaysia memberi proteksi kepada 17 kebutuhan bahan pokok. "Malaysia bisa menjadi salah satu model skema kenaikan harga BBM. Jadi, diberi buffer oleh Bulog. Kita lebih menganut keseimbangan pasar," ungkap Adi. Selain itu, Adi melanjutkan, hal utama yang mesti dilakukan pemerintah adalah pembangunan insfrastruktur. Dengan begitu, akan membuka lapangan pekerjaan yang lebih banyak. "Jadi tak perlu banyak orang yang diberi subsidi. Income perkapita kita juga diharapkan tembus di kisaran angka Rp10 ribu," ujarya. "Bappenas sudah merencanakan itu. Sudah dialokasikan dana Rp21 triliun untuk infrastruktur, " tambah Adi. (adi)  (Sep 20, 2012 | post #1060)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Dua kementerian yang membawahkan urusan sawit juga mengembangkan riset tersendiri khusus tentang sawit. Divisi riset perusahaan sawit Malaysia terus-menerus berusaha menemukan bibit unggul yang mampu memberikan produktivitas tinggi, cepat panen, dan tahan terhadap hama-penyakit. Bukan hanya itu, seluruh pemangku kepentingan di Malaysia bersatu untuk memajukan perkebunan dan industri sawit. Dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat Malaysia satu sikap dalam soal sawit. LSM setempat tidak mau menjadi perpanjangan Green Peace, yang terkadang menjadi corong negara maju lantaran takut produk minyak nabatinya tersaingi minyak sawit. Tak mengherankan bila industri hilir sawit Malaysia sangat maju. Malaysia berhasil membuat bermacam produk derivatif yang memberikan nilai tambah tinggi, tidak sekadar mengekspor minyak sawit mentah. Negeri jiran itu bahkan melebarkan sayap di 15 negara untuk membangun pabrik produk derivatif sawit, meski lahan sawitnya hanya berada di tiga negara. Dengan dukungan R&D maupun sokongan penuh pemerintah, produktivitas sawit Malaysia jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Produktivitas sawit Malaysia 3,5 ton per ha, sedangkan Indonesia 2,5 ha per tahun. Akibat perbedaan produktivitas, Malaysia dengan luas lahan sawit hanya 61,5% dari luas lahan sawit Indonesia mampu memproduksi CPO hingga 17 juta ton atau 85,3% dari produksi CPO Indonesia. Dengan performa Malaysia yang sedemikian mencengangkan, Indonesia sebaiknya bisa mencontoh Malaysia. Kita tidak perlu gengsi belajar dari mereka, yang dulunya justru berguru ke Indonesia. Perusahaan sawit di Indonesia perlu memperkuat dan memprioritaskan R&D. Pemerintah pun wajib memberikan fasilitas, terutama keringanan pajak atas biaya R&D yang dikeluarkan perusahaan. Sebagian dana yang disetor produsen sawit ke negara sebaiknya dikembalikan untuk pengembangan sawit, misalnya untuk R&D atau peremajaan kebun sawit rakyat. Sebab, sekitar 40% dari 7,8 juta hektare lahan sawit di Indonesia saat ini berupa perkebunan rakyat, yang mayoritas sudah uzur sehingga perlu diremajakan. Bila Indonesia serius membangun R&D serta industri hilir yang memproduksi derivatif CPO bernilai tambah tinggi, kita bisa jauh meninggalkan Malaysia. Apalagi potensi Indonesia jauh lebih besar. Saat ini, lahan yang sudah ditanami sawit baru 7,8 juta ha, sekitar 16,5% dari wilayah pertanian dan perkebunan atau 8,3% dari total wilayah hutan. Masih ada 7 juta ha lahan yang bisa ditanami sawit. Di sinilah perlunya komitmen penuh dari produsen CPO dan para pemangku kepentingan, terutama pemerintah. Pemerintah jangan terkesan sekadar mengeruk uang dari produsen CPO yang tengah menikmati bonanza dari tingginya harga CPO di pasar global.  (Sep 20, 2012 | post #1059)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Selasa, 12 Juli 2011 Belajar Sawit dari Malaysia Dikutip Oleh : Kevin Elfrianto Oleh Tajuk Rencana Sumber : Investor Daily, 12 Juli 2011. Indonesia boleh berbangga menjadi produsen terbesar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dunia. Tahun ini, produksi CPO Indonesia diperkirakan mencapai 23 juta ton dan pada 2020 ditargetkan menembus 40 juta ton. CPO berikut produk turunannya tahun lalu menyumbangkan devisa tak kurang dari US$ 15 miliar. Minyak sawit juga menyetor bea keluar ke pemerintah sebesar Rp 15 triliun pada tahun lalu atau Rp 50 triliun bila dihitung secara akumulatif sejak kebijakan bea keluar diberlakukan. Perkebunan sawit merupakan tempat bergantung 3,5 juta kepala keluarga. Setidaknya 17 juta tenaga kerja terserap di perkebunan sawit dan industri sawit. Namun, di balik prestasi itu, ada beberapa hal yang merisaukan. Terutama bila industri sawit kita dibandingkan dengan Malaysia, produsen CPO terbesar kedua di dunia. Setidaknya perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap industri sawit kedua negara amat jauh berbeda. Meski produsen CPO nasional sudah banyak menyumbang dana ke kas negara, pemerintah tidak memberikan perlakuan timbal balik yang sepadan. Praktis, tidak ada dana yang telah disetor itu dikembalikan ke industri maupun perkebunan sawit, untuk pengembangan industri yang bersangkutan. Terkesan pemerintah hanya ‘memerah’ produsen CPO. Hal itu berbeda dengan Malaysia. Dari setoran yang diberikan oleh industri sawit, ada sebagian dana yang dikembalikan untuk pengembangan industri sawit. Pemerintah Malaysia juga memberikan keringanan pajak bagi perusahaan sawit yang mengembangkan riset dan pengembangan (R&D), karena 50% biaya riset dikembalikan ke perusahaan. Ada sebuah BUMN perkebunan Malaysia yang menempatkan R&D sebagai prioritas utama. Perusahaan itu menganggarkan 2-3% keuntungan bersihnya untuk kegiatan R&D. Tahun ini, minimal Rp 150 miliar dialokasikan untuk R&D.  (Sep 20, 2012 | post #1058)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Kualitas SDM Indonesia Dikalahkan Malaysia Tingkat produktivitas dunia usaha RI di peringkat 58, jauh di bawah negara tetangga. Rabu, 14 Desember 2011, 12:45 Antique, Harwanto Bimo Pratomo Sejumlah pelamar padati bursa kerja (VIVAnews/Tri Saputro)BERITA TERKAIT Stop Pengangguran, Puluhan Aturan Dibenahi Kadin: Upah Minimum Sumbar Beratkan Pengusaha Keterampilan Sarjana Tak Sesuai Pasar Anggaran Turun, Pengangguran Jakarta Naik Pengangguran Turun, Republik Kian Sejahtera? VIVAnews - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi penyebab tingginya angka pengangguran terbuka di Tanah Air. Menurut Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, industri maupun jasa perdagangan menuntut kualitas SDM yang baik untuk memenuhi kebutuhan para pekerjanya. "Untuk itu, rendahnya kualitas tenaga kerja berimbas pada tingkat produktivitas dunia usaha Indonesia," ujar Suryo saat memberi sambutan dalam acara seminar 'Mencetak Sejuta Lapangan Kerja dan Kewirausahawan Baru' di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu 14 Desember 2011. Tingkat produktivitas dunia usaha Indonesia, dia melanjutkan, berada di peringkat 58, jauh di bawah negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand maupun Malaysia. "Thailand berada di peringkat 27 dan Malaysia 18," tuturnya. Pengangguran yang relatif tinggi di Indonesia, dia menambahkan, disebabkan adanya kesenjangan antara jumlah pertumbuhan angkatan kerja dan lapangan kerja khususnya pada sektor formal. "Pertumbuhan angkatan kerja tiap tahun mencapai sekitar 2,91 juta, sedangkan pertumbuhan lapangan kerja hanya mampu menampung 1,6 juta orang, sehingga tiap tahun ada penambahan pengangguran 1,3 juta orang," tutur Suryo. Sebagai informasi, berdasarkan tingkat pendidikan dari 8,14 juta pengangguran terbuka, 20 persen tamat SD, 22,6 persen tamat SLTP, 40,07 persen tamat SLTA, empat persen tamat diploma, dan 5,7 persen tamat sarjana. Pengangguran lulusan SLTA, ujar dia, cukup memprihatinkan karena cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun. "Antara 2005 hingga 2009 terjadi peningkatan persentase sekitar enam kali lipat," ujarnya. (art)  (Sep 20, 2012 | post #1057)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Kalah dari Malaysia, Daya Saing RI Melorot Lagi Kini Indonesia berada di posisi 50 dunia, turun empat tingkat. Rabu, 5 September 2012, 16:54 Syahid Latif Forum Ekonomi Dunia (REUTERS/Christian Hartmann/Files)BER ITA TERKAIT FOTO: Protes Telanjang Dada Perempuan Aktivis Eksekutif Indonesia Berguru di Davos Diplomasi Nasi Goreng di Forum Ekonomi Dunia Krisis Euro Dominasi Forum Ekonomi Dunia 2012 Aktivis RI Kritik Kaum Kapitalis di Davos VIVAnews - Peringkat daya saing Indonesia kembali melorot dalam peta persaingan negara-negara di dunia. Global Competitiveness Index (GCI) 2012-2013 yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia pada posisi 50 dari 144 negara di dunia. Peringkat Indonesia kali ini turun 4 tingkat dibanding setahun sebelumnya yang masih berada di posisi 46 dunia. Indonesia makin jauh tertinggal dari negara tetangganya yang umumnya berada di peringkat lebih tinggi. Malaysia berada di posisi 25, bahkan Singapura di posisi kedua dunia. "GCI menunjukkan tren jangka panjang yang membentuk tingkat daya saing dalam perekonomian global," kata Profesor Ekonomi dari Colombia University, AS, Xavier Sala-i-Martin dalam laporan Global Competitiveness Index 2012-2013, Rabu, 5 September 2012. Selain Malaysia dan Singapura, peringkat daya saing Indonesia juga masih kalah dibandingkan Thailand yang berada di posisi 38 dan Brunei Darussalam di peringkat 28 dunia. Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul dari Filipina yang menempati posisi 65 dunia. WEF menjelaskan, peringkat daya saing sebuah negara menunjukkan indikator dari produktivitas sebuah negara dilihat dari perangkat institusi, kebijakan, dan berbagai faktor pendukung lainnya. Setidaknya 12 faktor daya saing dinilai WEF mulai dari institusi, infrastruktur, kondisi makro ekonomi, pendidikan dasar dan kesehatan, pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, perkembangkan pasar keuangan, kesiapan teknologi, dan skala pasar. Dua faktor lain dinilai dari kepuasan bisnis dan inovasi. Pada tahun ini, sejumlah negara yang tergabung dalam kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) menunjukkan kinerja yang berlainan. Walaupun China mengalami penurunan peringkat ke posisi 29 dunia, anggota lain seperti Brasil justru naik. Pada laporan kali ini, WEF masih menempatkan Swiss sebagai negara dengan daya saing terbaik di dunia. Peringkat ini sudah digenggamnya sejak empat tahun terakhir. Sementara itu, peringkat kedua diisi oleh Singapura dan menguntit di bawahnya Finlandia yang sebelumnya berada di posisi empat. (art)  (Sep 20, 2012 | post #1056)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Minat Perbankan Indonesia Kalah dengan Malaysia Sabtu, 14 Juli 2012 19:15 WIB OKEZONE Jumlah Investor Indonesia Kalah Dibanding Malaysia TARSA Minta Pemerintah Aceh Tingkatkan Kerja Sama dengan Malaysia Tim Thomas Indonesia Kalah Dari China Soal Mobil Nasional, Indonesia Kalah dari Malaysia SOLO-Minat masyarakat Indonesia terhadap perbankan jauh lebih kecil dibandingkan negara lainnya di Asia Tenggara. Di Malaysia, hampir 68 persen penduduknya telah memiliki rekening tabungan. Begitu pula di Singapura, tujuh juta penduduknya semuanya memiliki rekening tabungan. "Sedangkan di Indonesia, dari 240 juta warganya, hanya 19 persen saja yang memiliki tabungan," kata Ketua Umum GP Ansor, Yusron Wahid, di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu 14 Juli 2012. Menurut Yusron, rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk berurusan dengan perbangkan disebabkan adanya anggapan bila berurusan dengan perbangkan merupakan aib yang memalukan. "Semisal, pagi-pagi rumah kita didatangi pihak bank, tentu akan muncul anggapan di lingkungan kita ternyata rumah kita yang kita tempati utang di bank. Itu dianggap aib,yang memalukan," ucapnya. Menurut dia, ada kecenderungan di masyarakat lebih condong mempercayai lembaga keuangan tidak resmi, seperti rentenir untuk menutup kebutuhan finansialnya. Meskipun bunga yang diberikan jauh lebih tinggi dibandingkan bunga perbangkan. “Kondisi seperti ini banyak terjadi pada masyarakat di daerah-daerah terpencil,"uj arnya. Lebih lanjut Yusron mengatakan, Salah satu solusi yang bisa diambil dari permasalahan tersebut adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat. Serta meminta kepada kalangan perbangkan untuk tidak menerapkan aturan yang rumit. Selama ini, diakui oleh Yusron, aturan kredit yang diterapkan perbangkan masih dianggap terlalu berbelit-belit yang menyebabkan masyarakat malas untuk datang ke bank. Tak hanya itu saja, keterbatasan unit perbangkan yang tidak menyentuh kepedesaan membuat rendahnya jumlah warga Indonesia yang memiliki rekening. "Idealnya, kalau besarnya biaya yang harus dikeluarkan kalangan perbankan untuk membuka cabang di pelosok desa, bisa diambil dengan cara menjalin kerjasama dengan Koperasi Simpan Pinjam atau BMT-BMT," katanya. Menurutnya, lembaga keuangan mikro dan perbankan dinilai lebih aman dan menjamin kesejahteraan masyarakat. International Islamic Financial Inclusion Summit (IFIS) merupakan serangkaian acara harlah GP Ansor yang dilaksanakan selama lima hari di Stadion Manahan. Puncak acara harlah sendiri akan dilaksanakan pada 16 Juli lusa yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. | sumber:okezone  (Sep 20, 2012 | post #1053)

MALAYSlA DIJADIKAN BENCHMARK OLEH lNDONESIA

Senin, 25 Juni 2012 | 14:23 WIB Jumlah Investor Indonesia Kalah Dibanding Malaysia Besar Kecil Normal TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Isaka Yoga, mencatat jumlah investor lokal di Indonesia kalah jauh dibandingkan negara jiran Malaysia. "Investor lokal kita hanya beberapa ratus ribu, tidak naik-naik. Padahal jumlah penduduk kita hampir 250 juta," ujarnya di Jakarta, Senin 25 Juni 2012. Dalam catatannya, dengan jumlah penduduk sekitar 28 juta jiwa, negara serumpun dengan Indonesia itu memiliki investor lokal hingga 10 juta, atau hampir setengah penduduknya menjadi investor, jauh meninggalkan investor lokal Indonesia. Selain jumlah investor, ujar dia, jumlah emiten Malaysia juga jauh meninggalkan jumlah emiten Indonesia yang hanya sekitar 441 emiten. Saat ini minat perusahaan melempar sahamnya ke publik (initial public offering/IPO) masih minim. "Padahal jumlah emiten kita ini potensinya jauh lebih besar dari mereka,". Ia menyayangkan sikap pemerintah yang tidak memberikan insentif dan dorongan agar perusahaan-perusah aan go public menjadi pemicunya, padahal potensi perusahaan Tanah Air cukup besar untuk go public. Dia mencontohkan para pengusaha anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengenai ketertarikannya untuk IPO yang dinilainya masih rendah untuk IPO. "Padahal jumlahnya ribuan pengusaha," katanya. Selain perusahaan lokal, dia menyayangkan minimnya minat perusahaan asing, khususnya yang bergerak di sektor pertambangan untuk melantai di pasar modal Indonesia, menjadi pemicu sedikitnya emiten bursa. Padahal jumlah mereka cukup banyak di Indonesia. "Harusnya BKPM bisa mengajak mereka listing di sini," kata Isaka. BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) diharapkan lebih aktif mengajak mereka karena imbauan untuk mencatatkan sahamnya bukan berada di otoritas pasar modal. "Dengan penambahan emiten, maka akan membuat penambahan investor lokal di pasar modal." Untuk mendukung itu lembaganya mengharapkan pemerintah lebih aktif mengkampanyekan pentingnya investasi di pasar modal menjadi investor lokal. "Seperti kampanye keluarga berencana (KB), kampanye menabung. Kita belum pernah kampanye, makanya penambahan sedikit."  (Sep 20, 2012 | post #1052)