“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#23 Dec 4, 2007
pesawat "Drone" produk RI

ept. pertahanan RI, bekerjasama dengan perusahaan swasta
(yang merupakan hasil spin-off dari komunitas kampus)
sedang mengembangkan produk Pesawat Terbang Tanpa Awak
(PTTA) atau "Drone".

Ada sekerat sisa rasa afeksi menceritakan hal ini, karena
orang-2 yang terlibat di situ dulu kakak-2 kelas/senior-2
saya yang dulu pernah membina kami di Unit kegiatan "hobby"
mahasiswa yang disebut "Aerokreasi". Unit ini mempunyai
beberapa divisi kegiatan: Aeromodeling, Terbang Layang,
dan Hovercraft - tentu dengan segala pasang-surut nya.
Sepintas lalu memang bisa memberi kesan kegiatan "hedonisme",
maklum, fasilitas "hobby" semacam ini memang membutuhkan
beaya. Tapi kenyataannya tidak semua pesertanya dari
kalangan "mampu" - neither was I. Dan ternyata selama di
situ banyak fasilitas yang bisa di share, kami hampir
tidak pernah mengeluarkan beaya yang berarti, kecuali
beaya transportasi, makan dan sejenisnya.

Meskipun kegiatannya sering angin-anginan, bergantung
pada "mood", maklum kegiatan mahasiswa, tapi syukurlah
ada juga di antara alumninya yang menindak lanjuti "hobby"
nya tersebut menjadi kegiatan "real" yang sudah menghasilkan
usaha di tingkat komersial.

For my case, the trace of this good-old-time hobby is also
still "alive", at least in academical sense. I am now still
working in the area which also includes fluid dynamics,
dealing with things such as solving the Navier-Stokes
equations.

I hope someday, I would have the opportunity to work on
both the numerical modeling and experiments on MHD (Magneto
Hydro Dynamics) technology for some applications. In the
numerical modeling part, you could simulate MHD phenomena,
"simply" by coupling the Navier-Stokes's and Maxwell's
equation, and solving them together < phhuihhhh ... ;-) >

Well, at least I have made a simple experiment just
using hobby-grade apparatus/materials, just to show
that MHD phenomena (MHD-"motor") does exist.
Cok Lie

Jakarta, Indonesia

#24 Dec 4, 2007
perang tuh pake otak, ndak pake duit.
Maling punya duit hasil maling dari cina dan india.
Tak da otak buat cari duit pake cara lain kah?
melayu asli wrote:
DUIT PUN TAKDE MAU PERANG? MATI KEBULURAN SAJALAH RAKYAT INDON.

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#25 Dec 4, 2007
PT PAL Selesaikan Kontrak dengan Dephan

Surabaya, Kompas - PT PAL Indonesia telah menyelesaikan kapal patroli cepat FPB 57 Nav V KRI Lemadang (806) pesanan Departemen Pertahanan (Dephan). Kapal yang akan digunakan untuk memperkuat jajaran TNI AL tersebut akan diserahkan kepada Dephan hari Senin (7/4) ini.

Direktur Utama (Dirut) PT PAL Adwin H Suryohadiprojo, pekan lalu menjelaskan, dengan selesainya KRI Lemadang tersebut, maka seluruh kontrak kapal sejenis yang dipesan TNI AL telah dikerjakan oleh PT PAL. Dalam kontrak yang dibuat sejak tahun 1994, TNI AL total memesan 12 kapal FPB 57, dan empat di antaranya dibuat dengan versi Nav V.

Sebelum KRI Lemadang, PT PAL Indonesia telah menyerahkan KRI Todak, KRI HIU, dan KRI Layang. Keempatnya merupakan kapal patroli cepat (Fast Patrol Boat/FPB) Nav V yang memiliki kecepatan 29 knot.

KRI Lemadang yang memiliki jarak tempuh maksimum 5.600 mil nautikal ini berukuran panjang 58,10 meter, lebar 7,62 meter, dan tinggi geladak 4,7 meter. "Adapun persenjataan yang terintegrasi dalam kapal antara lain meriam Bofors 57 milimeter (mm) dan 40 mm, serta radar penjelajah dan sensor optronik," kata Adwin.

Sejak awal pemesanan, banyak kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan kapal untuk TNI AL. Hambatan itu antara lain dikenakannya embargo terhadap PT PAL dan pembayaran dari pemesan yang tak kunjung lunas.

"Lepas dari segala permasalahan itu, kami baru dapat mulai membangun kapal sesuai kontrak itu secara efektif sejak 20 bulan lalu. Sebenarnya sampai saat ini juga masih banyak ganjalan sih, tetapi kami komit untuk menuntaskan kontrak dengan Dephan, khususnya TNI AL ini," ujar Adwin.

Kapal FPB 57 Nav V, jelas Adwin, memiliki keunggulan dibanding pendahulunya, yakni FPb 57 Nav I-IV. Kapal versi Nav V dilengkapi sistem kendali persenjataan (fire control system), dirancang mampu menyusup ke daerah lawan secara diam-diam dengan radar yang diproduksi khusus, dan memiliki kecepatan lebih tinggi karena konstruksi bangunan atas dibuat lebih ringan.

Menurut Adwin, di bidang kapal perang, PT PAL telah mengimplementasikan penguasaan teknologi rancang bangun dan produksi dalam bentuk pembuatan kapal patroli cepat. Selain menggarap FPB 57 untuk TNI AL, PT PAL juga telah membangun kapal FPB 28 untuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai serta Polri.

Sementara di bidang kapal komersial, pengembangan teknologi perkapalan telah dilakukan dengan membangun kapal tanker dengan bobot mati 17.500 ton, kapal kontainer dengan kapasitas 1.600 dan 400 TEUs (twenty feet equivalen units), dan berbagai jenis kapal penumpang.

"Kami juga sudah melakukan ekspansi ke pasar ekspor dengan membuat kapal dry cargo vessel berbobot mati 18.500 ton," tambah Adwin.(RMA)
guntur

Jakarta, Indonesia

#26 Dec 4, 2007
untuk senapan,,

kita uda bikin SS-3

yg lebih baik dari M16 amrik,,,

sumpa deh,,

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#27 Dec 4, 2007
Rusia-Indonesia Mulai Kerjakan &#8220;Pangkalan Biak&#8221;

Jakarta &#8211; Rusia dan Indonesia, Selasa (20/3), sepakat memulai pengerjaan proyek pangkalan penerbangan angkasa luar di Pulau Biak, Papua. Pembangunan pangkalan pesawat pembawa roket pengangkut satelit tersebut diperkirakan terwujud secepatnya pada 2009. Demikian kesepakatan yang dilakukan Presiden Air Launch Aerospace Corporation dari Rusia, Anatoly Karpov, dan Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Adi Sadewo Salatun, di Jakarta.
&#8220;Dengan rampungnya perencanaan, kini kita bergerak ke tahap pengerjaan,&#8221; kata Karpov. &#8220;Momentumnya tengah baik dan pihak Indonesia serta investor tengah menunjukkan minat yang tinggi. Situasi tersebut sudah merupakan awal yang cukup baik,&#8221; lanjut Karpov. Dia juga mengungkapkan bahwa lancarnya tahap perencanaan &#8220;Pangkalan Biak&#8221; berkat dukungan kuat dari kedua pemerintah seperti yang ditunjukkan pada pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Vladimir Putin di Moskow, November tahun lalu.
Karpov berharap pemerintah Indonesia segera meratifikasi kesepakatan kerja sama proyek penerbangan angkasa luar Rusia-Indonesia sehingga Pangkalan Biak dapat segera terwujud, paling cepat pada 2009-2010. &#8220;Begitu proyek terwujud, Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan penerbangan angkasa luar dan statusnya yang baru itu akan mendongkrak posisinya di mata dunia,&#8221; kata Karpov.
Proyek patungan Rusia-Indonesia tersebut, menurut Karpov, juga membawa keuntungan bagi negara-negara lain di Asia Pasifik, karena pangkalan di Biak menawarkan jasa penerbangan angkasa luar dengan biaya murah. Proyek tersebut diperkirakan memakan biaya antara US$ 160 juta hingga US$ 200 juta.

Lokasi Strategis
Menurut Sadewo, Pulau Biak merupakan lokasi yang sangat strategis untuk penerbangan ke angkasa luar karena posisinya sangat dekat dengan garis katulistiwa. &#8220;Posisinya hanya dua derajat dari garis katulistiwa, dengan kecepatan rotasi Bumi berkisar 0,4 kilometer/detik. Artinya itu akan memangkas beban angkut orbit hingga seperempat dari rata-rata,&#8221; kata Sadewo.
Dia mengungkapkan bahwa Indonesia mulai menyadari lokasinya yang strategis dalam penerbangan angkasa luar pada awal dekade 1970-an. Saat itu beberapa perusahaan Amerika Serikat (AS) berulang kali mengajukan penawaran untuk membangun pangkalan. &#8220;Namun kami melihat Rusia-lah sebagai mitra yang paling serius,&#8221; kata Sadewo.
Kendati dikelola pihak swasta, pemerintah Indonesia diharapkan juga punya andil atas Proyek Biak. &#8220;Kami juga ingin menguasai teknologi roket dan kami berharap bisa mendapatkannya dari kerja sama jangka panjang dengan Rusia,&#8221; kata Sadewo.
Pangkalan penerbangan angkasa luar di Biak akan terbilang unik karena akan memanfaatkan landasan pesawat terbang peninggalan Perang Dunia Kedua. Produsen pesawat Antonov siap memproduksi pesawat tipe AN-124-100 Ruslan yang akan membawa roket pembawa satelit Polyot buatan Makeyev. Berdasarkan cetak-biru yang dibuat para ahli di Rusia, setelah lepas landas dari Biak, pesawat Ruslan melepas roket Polyot pada ketinggian 10 kilometer dari permukaan laut dan roket selanjutnya mampu melepas beberapa satelit di angkasa luar. Biaya peluncuran satelit melalui jasa penerbangan di Biak tersebut diyakini hanya sebesar 1/8 atau 1/9 dari biaya yang harus dikeluarkan oleh peluncuran secara konvensional.(ren/ria novosti)
zzz

Balikpapan, Indonesia

#28 Dec 4, 2007
sumpeh lu..
zzz

Balikpapan, Indonesia

#29 Dec 4, 2007
guntur wrote:
untuk senapan,,
kita uda bikin SS-3
yg lebih baik dari M16 amrik,,,
sumpa deh,,
sumpeh lu..

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#30 Dec 4, 2007
PINDAD IKUT RAMAIKAN PASAR
PENGGUNAAN senjata otomatis regu (squad automatic weapon/SAW) kaliber 5,56 mm x 45 semakin meluas oleh militer berbagai negara. Indonesia pun melalui PT Pindad Bandung ikut memproduksi, dengan bersiap-siap meluncurkan SM-3 (senapan mesin-3) untuk dapat diadopsi oleh TNI.
Sebanyak tiga varian SM-3 kini tengah diajukan sertifikasinya, dua buah menggunakan laras standar (variasi 1 dan variasi 2) dan satu lainnya berlaras pendek (variasi 3). Riset dan pengembangan SM-3 memakan maktu sampai tiga tahun, dengan membuat sebanyak 12 buah prototipe sampai kemudian dipilih tiga di antaranya untuk disertifikasi.
Produk SM-3 desainnya mengacu kepada sosok FN Minimi buatan Belgia, yang merupakan perintis dan dipopulerkan tahun 1980-an lalu. Kendati desainnya mirip, ada beberapa persamaan dan perbedaan bentuk antara SM-3 dengan FN Minimi.
FN Minimi adalah SAW yang tersukses di dunia sehingga banyak negara tertarik mengembangkan dan membuat sendiri produk sejenis. Tujuannya, tak terlalu tergantung kepada produsennya manakala dihadapkan pada perawatan atau perbaikan dari pabrik asalnya.
Kesamaan SM-3 dengan FN Minimi adalah model tembakan sama-sama hanya otomatis penuh (full automatic) standar peluru 5,56 mm x 45 NATO (jenis SS-109, produk Pindad MU-5) atau dapat menggunakan jenis M-193 (Pindad MU-4, standar Colt M-16A1). Bagian yang mirip misalnya laras, pegangan atas (handle), pengunci, rumah mekanis dan mekanis, popor (varian 2), grip, serta pejera (front sight/varian 1), serta model tabung gas (varian 1).
Perbedaannya, bentuk peredam cahaya (flash hider), pisir (back sight), grip (pegangan) depan, popor (varian 1 menggunakan model M-249 Amerika), serta bipod.
Dari isian peluru, SM-3 baru hanya menggunakan belt (untaian 100 peluru), sedangkan FN Minimi versi standar menggunakan kombinasi belt dan magasen kotak isi 30 peluru.
Sistem isian peluru kombinasi belt dan magasin kotak, menjadi unggulan FN Minimi, yang juga ditiru untuk produk M-249 (Amerika), IMI Negev (Israel), Daewoo K3 (Korea), dan F89 (Australia). Tujuannya memudahkan suplai saat peluru untai sudah habis, dapat memperoleh pasokan peluru kaliber sama dari cadangan magasen kotak rekan-rekannya penembak senapan dalam satu regu, seperti SS-1, SS-2, FNC, M-16, dsb.
Bukan goblok

Amsterdam, Netherlands

#31 Dec 4, 2007
kami tak perlu drone pak. satelit kami udah cukup. indon pun pinjam satelit kami pak

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#32 Dec 4, 2007
PT PAL Lanjutan Program Pembuatan Kapal Korvet

JAKARTA--MIOL: PT PAL menyatakan siap untuk melanjutkan program pembuatan korvet nasional untuk memenuhi kebutuhan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) memperkuat pertahanan matra laut.

"Kami siap untuk melanjutkan pembuatan dua korvet nasional, namun kontraknya hingga kini belum ada," kata Direktur Pembuatan Kapal PT PAL M Moenir di Jakarta, Kamis (12/1).

Ditemui disela-sela Bursa dan Pameran Industri Pertahanan Nasional ia mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rancangan dasar kapal jenis itu namun hingga kini pemerintah dalam hal ini TNI AL belum memberikan order kepada BUMN ini.

Namun, tambah dia, sesuai perkembangan teknologi dan situasi lingkungan strategis yang ada maka perlu dilakukan modifikasi terhadap rancangan dasar korvet nasional, yang telah disiapkan PAL.

Moenir mengatakan, pada prinsipnya PAL siap mendukung kebijakan kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Tetapi hal itu tidak akan ada artinya tanpa dukungan dana dan tekad pemerintah untuk dapat secara

berkesinambungan memilih PAL memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.

"Memang tiga tahun lalu sudah disampaikan proposal korvet ini, tetapi rupanya keterbatasan anggaran masih menjadi kendala belum mewujudnya korvet nasional," katanya.

Karena itu, lanjut dia, sejak 2005 hingga 2009 PT PAL lebih banyak memenuhi permintaan luar negeri yakni sekitar 80 persen dari total pendapatan PAL yang pada tahun ini diharapkan mampu menghasilkan Rp1 triliun.

"Beberapa negara yang memesan kapal dari PT PAL antara lain Jerman, Turki, Italia dan Hongkong, dengan jenis kapal yang dipesan seperti kapal tanker bahan kimia, kapal container dan kapal pengangkut curah (bulk

carrier)," tuturnya.

Indonesia dengan perairan laut yang luas, sangat membutuhkan korvet. RI, oleh Military Balance IISS (2005), masih dicatat memiliki 16 korvet, seperti Kapitan Pattimura dari kelas Parchim buatan Jerman Timur.

Korvet yang telah diganti mesinnya ini tentu aset yang berharga, tetapi jumlahnya belum memadai dibandingkan perairan yang harus dijaga oleh TNI AL. Lebih-lebih jika mengingat tingkat kesiapan tempurnya, di tengah keterbatasan anggaran, sering rendah.

Selama ini PT PAL telah memproduksi kapal patroli FPB (Fast Patrol

Boat) 57 m untuk TNI AL dan pada Juni 2006 mulai merakit kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) yang mampu mengangkut personil lebih banyak, dilengkapi dengan rumah sakit serta mampu menampung tujuh helikopter.

"Untuk LPD ini, kami sudah siapkan rancangannya dan kontraknya pun sudah ada, jadi tinggal melaksanakan pembuatannya yakni Juni 2006 dan akan memakan waktu 18 bulan," kata Moenir.(Ant/OL-06)

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#33 Dec 4, 2007
Bukan goblok wrote:
kami tak perlu drone pak. satelit kami udah cukup. indon pun pinjam satelit kami pak
Satellite for Indonesia Is Launched by NASA

LEAD: A $43 million communications satellite originally delayed because of the Challenger disaster has become the space agency's seventh straight successful launching.

A $43 million communications satellite originally delayed because of the Challenger disaster has become the space agency's seventh straight successful launching.

The satellite, intended to serve Indonesia's 13,677 islands and five other nations of the Southwest Pacific, was launched Friday at 5:22 P.M. from the Kennedy Space Center here. Twenty minutes after the launching, a Delta rocket propelled the satellite into an elliptical orbit ranging from about 115 miles to 23,000 miles above the Earth.

Indonesia paid the National Aeronautics and Space Administration $50 million to launch the Palapa B2P satellite.

The launching was the latest in a series of successes for NASA, which had two other failures after the space shuttle Challenger exploded on Jan. 28, 1986, killing its seven-member crew.

kah..kah..kah (tertawa khas orang Malingsia)

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#34 Dec 4, 2007
Menata Merah Putih dari Langit
Jakarta | Jum'at, 17 Agt 2007
KEBERHASILAN Indonesia mengembangkan teknologi baru akhirnya terjawab setelah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN TUBSAT) sukses membuat satelit mikro. Setelah dirancang sejak 2005 dan mengalami penundaan penerbangan satu tahun, tepatnya 10 Januari 2007 lalu, satelit ini berhasil mengorbit di lintasannya pada ketinggian 630 kilometer.
Desainnya hampir mirip dengan model satelit pada umumnya. Seperti perangkat baterai, panel surya, dan perangkat elektronik yang menjadi otak program pengolahan dan pengiriman data. Fasilitas yang diusung antara lain dua buah kamera yang berfungsi mengambil gambar dan video. "Namanya juga satelit mikro, tidak begitu komplit dan fasilitasnya sangat sederhana," kata Deputi Bidang Teknologi Dirgantara LAPAN Dr Ing Soewarto Hardienata. Berat total satelit hanya 57 kilogram.
Soewarto mengaku sangat bangga Indonesia berhasil menciptakan satelit buatan bangsa sendiri. Dengan teknologi sederhana, hasilnya luar biasa. Proyek satelit mikro ini disetujui pada 2003 dengan anggaran yang sangat minim. Satelit dapat difungsikan untuk pemantauan langsung situasi di bumi nusantara seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.
Hasilnya setelah enam bulan resmi terbang menempati orbitnya, sungguh sangat mengejutkan. Tak hanya para insiyur dalam negeri yang membuatnya, namun ilmuwan dan pihak asing pun turut kagum ketika hasil pencitraan tersebut dipresentasikan. "Kamera satelit mampu bekerja sesuai perkiraan," kata Wahyudi Hasbi, peneliti pusat teknologi kedirgantaraan LAPAN yang juga menjadi tim teknisi satelit Tubsat Lapan.
Kamera pertama mampu menghasilkan gambar beresolusi rendah dengan daya pisah 200 meter dengan daya cakupan 81 kilometer, sedang pada resolusi tinggi gambar mampu menghasilkan daya pisah obyek hingga 5 meter dengan luas sapuan 31 kilometer. "Untuk mengamati kapal tanki, sebuah bangunan, gunung mupun kota seperti Jakarta bisa sangat jelas diamati. Sehingga harapan menjadikan satelit tersebut sebagai alat pengawas (surveilance) dari langit cukup memungkinkan," kata Wahyudi.

Sumber : Jurnal Nasional

WAHAI MALINGSIA JANGANLAH KAU BERTOKEK RIA DI DALAM TEMPURUNG!! KAH..KAH..KAH (TAWA KHAS BERUK MALAYSIA)
Freddy

Bandung, Indonesia

#35 Dec 4, 2007
wew kok bisa tahu banyak si Bro? Penggemar majalah dirgantara ya?

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#36 Dec 4, 2007
Lapan Dalami Mikrosatelit

JAKARTA–Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) terus mendalami teknologi mikrosatelit. Diharapkan dengan teknologi tersebut, kebutuhan Indonesia akan proses pencitraan dapat tercukupi.“Tren satelit menuju kecenderungan makin minimalis. Selain murah, namun tetap dibuat berperan besar. Oleh karena itu kami mengembangkan teknologi mikrosatelit,” papar Gunawan S. Prabowo dari Lapan, di Jakarta (13/6).
Kebanyakan mikrosatelit ini sendiri hanya berbobot dibawah 300 kilogram. Menurut Gunawan, bobot serendah itu dapat dicapai melalui optimasi alat-alat di dalamnya.“Seperti pada batere, yang mulanya menggunakan Cadmium, sekarang dipakai Lithium yang berbentuk lebih tipis dan mudah lentur,” tambahnya.
Beberapa optimasi alat juga terjadi pada teknologi pengumpul tenaga matahari (solar cell) yang lebih kecil dan mudah dilipat. Peminiaturan pada teknologi triple function, reaction wheel, transmitter, star sensor, mini truster dan optical gyro.“Bahkan pada Gyro, sekarang sudah diganti dengan teknologi GPS (Global Positioning System –red), sehingga lebih kompak” ucap Gunawan.
Tren mikrosatelit itu sendiri tercipta lantaran makin banyaknya kebutuhan pencitraan melalui udara. Dunia penelitian dan para praktisi keadaan lingkungan yang biasanya membutuhkan pencitraan tersebut. Dan menurut Gunawan, makin tahun menunjukan angka peningkatan permintaan melalui Lapan.
Lapan sendiri setidaknya telah menciptakan enam jenis mikrosatelit. Salah satunya adalah satelit Tubsat yang diluncurkan belum lama lalu. Rencana kedepannya Lapan akan terus mengembangkan teknologi ini, mengingat kebutuhan Indonesia dalam hal tersebut. Tercatat satelit baru seperti G2-Sat, yang hanya berbobot 90 kilogram telah dibuat. Rencananya tahun 2008 nanti akan diverifikasi di India.

Perlebar Kargo
Sementara itu, di lain pihak, Arianespace—sebuah perusahaan pelayanan dan solusi peluncuran satelit milik Prancis—pada hari yang sama juga mengungkapkan kelebihan kemampuan mereka dalam membawa barang ke luar angkasa.
Dalam presentasi yang dilakukan Richard Bowles, Direktur Wilayah Asia Tenggara, salah keunggulan utama dari perusahaan mereka merupakan kemampuan membawa barang yang lebih banyak. Tercatat roket peluncur mereka yang bernama Ariane 5 ECA, diperkirakan mampu membawa kargo hingga 10.000 kilogram. Sementara kemampuan terendah, pada roket peluncur Vega, mampu membawa sekitar 1.500 kilogram.
Kemampuan lain dari perusahaan ini, merupakan inovasi peluncuran ganda. Dimana satu roket peluncur membawa dua satelit sekaligus.“Ini bisa mengurangi biaya peluncuran,” ucap Bowles.
Biasanya peluncuran jenis ini, diminati oleh para pengguna satelit mikro, tambahnya. Karena bisa mengurangi biaya investasi jangka panjang.
Hingga saat ini Arianespace telah melakukan enam kali program peluncuran terhadap enam satelit milik Indonesia. Salah satunya merupakan satelit Telkom 2, yang baru diluncurkan belum lama ini.
(sulung prasetyo)

HAHAHAHA MANA ADA MALING BISA BIKIN SATELIT
combro

Saint-maur-des-fossés, France

#37 Dec 4, 2007
Bukan goblok wrote:
kami tak perlu drone pak. satelit kami udah cukup. indon pun pinjam satelit kami pak
jgan terlalu yakin, anda baca ttg palapa di wiki, dan lihat siapa saja penyewanya, malaysia pun turut menyewa... terbalik mas ;D
Laksmana Bentan

Johor Bahru, Malaysia

#38 Dec 4, 2007
Spirit of Java wrote:
Lapan Luncurkan 4 Roket Terbaru di Cilauteureun
ARUT,(PR).-
Walaupun sempat terlambat selama dua jam, sebanyak empat buah roket ilmiah berhasil diujicobakan dengan mulus oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Instalasi Uji Terbang Roket, Pantai Cilauteureun Cikelet Garut selatan, Rabu (1/6). Lapan masih akan melakukan lagi uji terbang terhadap lima roket lainnya Kamis (2/6) pagi ini
Semula dijadwalkan peluncuran pertama roket RX 1110 akan dilakukan tepat pada pukul 6.00 WIB, namun karena berbagai kendala, maka peluncuran baru dilakukan pukul 8.00 WIB, tepat setelah Wakil Gubernur Jawa Barat Nu'man Abdul Hakim hadir di Lapan. Peluncuran pertama roket berdiameter 115 mm ini sempat mendapat perhatian dari sejumlah pengunjung karena melesat sangat cepat dan cepat hilang dari pandangan.
Roket kedua dengan jenis RX 2728 diluncurkan pada pukul 9.30 WIB. Bahkan pemijitan tombol peluncuran roket kedua ini dilakukan langsung Wagub Nu'man Abdul Hakim disaksikan seluruh undangan, termasuk Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Sriyanto. Roket kedua tersebut merupakan roket terbesar yang diluncurkan pada uji coba kali ini.
Dengan diameter 267 mm, roket ini meluncur dengan ketinggian 21,3 km dan memiliki jangkauan hingga 46,3 km. Roket ini adalah salah satu varian dari roket RX 250 dengan tabung motor generasi pertama. Tujuan dari uji terbang ini adalah untuk mengetahui unjuk kerja roket tersebut.
Dua buah roket selanjutnya yang diuji terbang lainnya yakni dari jenis RX 1512 dan RX 70. Roket generasi ketiga jenis RX 2428 yang baru pertama kali diuji coba akan diluncurkan pagi ini berurutan dengan empat buah roket lainnya.
Dikatakan Deputi Bidang Dirgantara Lapan, Dr. Ing. Agus Muryanto di sela-sela uji coba roket kemarin, kesembilan roket yang diujicobakan ini murni buatan Indonesia dari Pusat Teknologi Wahana Dirgantara Lapan di Rumpin Bogor. Roket ini kemudian dibawa ke Cilauteureun untuk diluncurkan. Hanya saja, kita masih bergantung pada pihak luar negeri yang telah mampu memproduksi salah satu komponen sebagai pembentuk propelan. Propelan sendiri merupakan bahan bakar padat roket tersebut.
"Hingga 2010 ini Lapan tengah mencoba untuk mengembangkan roket jelajah berjarak 300 km. Sementara pengembangan roket selanjutnya akan membidik roket kendali," tutur Agus. Menurutnya, roket jenis RX 2728 dan RX 2428 adalah cikal bakal pengembangan roket jelajah, sementara roket RX 1110 diproyeksikan untuk roket kendali
Buatan yang tak ada nilai komersial.Buang duit aje INDON ni nak cari kebangaan.
MALAY OF THE CAPE

South Africa

#39 Dec 4, 2007
LONG LIFE MALAY SUPREMACY, ANNIHILATE ALL RACES INCLUDING INDONS, INDIANS,CHINESES FROM OUR MOTHERLAND MALAYSIA. MALAYSIA ONLY BELONGS TO MALAYS. COME ON GUYS, PLEASE UNITE AGAINST INDON. I CERTAINLY BELIEVE THAT WE ARE CAPABLE TO WIPE INDONESIA OUT OF WORLD'S MAP. MALAYSIA BOLEH!
combro

Saint-maur-des-fossés, France

#40 Dec 4, 2007
Laksmana Bentan wrote:
<quoted text>
Buatan yang tak ada nilai komersial.Buang duit aje INDON ni nak cari kebangaan.
belajar opportunity cost?
kalau mampu buat sendiri dan lebih murah maka tak perlu import yg lebih mahal...:)
masih gak ngerti?

“INDONESIA PARADISE ON WORLD”

Since: Dec 07

Jogja Never Ending Asia City

#41 Dec 4, 2007
Laksmana Bentan wrote:
<quoted text>
Buatan yang tak ada nilai komersial.Buang duit aje INDON ni nak cari kebangaan.
kik..kik...kik...sirik tanda tak mampu
mana kehebatan Malingsiamu selain mencuri pulau dan budaya negara lain?

dasar goblok roket itu memang tidak untuk dikomersialisasikan tetapi khusus untuk pertahanan dalam negeri. supaya suatu saat roket-roket tersebut bisa lebih dimodifikasi dengan nuklir yang hulu ledaknya diarahkan ke Malingsia buat kick ur ass from the world's map
Bukan goblok

Amsterdam, Netherlands

#42 Dec 4, 2007
kami udah buat and launch satelite sendiri sejak 90an dong...

jgn jadi dungu... read facts

tapi, apa kata jika we support each other. we can spy on Australia, US, Israel etc

Itu lebih bagus kan dong?

Tell me when this thread is updated:

Subscribe Now Add to my Tracker

Add your comments below

Characters left: 4000

Please note by submitting this form you acknowledge that you have read the Terms of Service and the comment you are posting is in compliance with such terms. Be polite. Inappropriate posts may be removed by the moderator. Send us your feedback.

Malaysia Discussions

Title Updated Last By Comments
DEBAT ISLAM VS KRISTEN. Fakta: ISLAM GAK AKAN M... (Jun '13) 4 min balita murtad 101,108
malingsial kkkkkkk 22 min oon 1
AIR ASIA VS LION AIR Pesawat INDON Tiada Kualiti! (Apr '13) 23 min makdatok 89
Air Asia tarif murah gadai nyawa 28 min edi 1
Sriwijaya sudah terbukti berpusat dan bermula d... 31 min Mohd Am 1,840
PESAWAT AIRASIA hilang hubungan di surabaya.. 32 min makdatok 51
pesawat malon jatuh lagi dan lagi 35 min gondrong 45
Ngaku-Ngaku Airasia Milik Indon - TAK TAHU MALU ! (Oct '09) 42 min fazil 38
More from around the web