SRIWIJAYA asal dari Thailand.

Posted in the Malaysia Forum

Comments (Page 86)

Showing posts 1,701 - 1,720 of23,366
|
Go to last page| Jump to page:
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1798
Jun 9, 2012
 
Ditemukan, 21 Situs Kerajaan Pra-Sriwijaya
Februari 2nd, 2010 · No Comments · KERAJAAN NUSANTARA

Ditemukan, 21 Situs Kerajaan Pra-Sriwijaya

Udo Z Karzi

budaya, sejarah

Palembang, Kompas - Balai Arkeologi Palembang menemukan 21 situs di enam desa di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang diduga peninggalan dari kebudayaan pada abad IV Masehi. Situs-situs itu menguatkan bukti telah berkembang dua kerajaan maritim sebelum Kerajaan Sriwijaya di Sumsel, yaitu Kerajaan Ko-Ying dan Kanto-Li.

Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni SB, di Palembang, Selasa (4/4), mengungkapkan, penemuan 21 situs itu terjadi secara bertahap sejak tahun 2000 sampai 2006. Bahkan, di awal 1990-an, tim peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional yang diketuai Bambang Budi Utomo juga sebelumnya sudah menemukan sejumlah bukti lain di kawasan Air Sugihan, tak jauh dari lokasi temuan terakhir.

Penemuan berawal dari informasi masyarakat yang mendapatkan berbagai benda kuno di areal transmigrasi yang hendak diolah jadi lahan pertanian. Dalam situs-situs itu terdapat berbagai peninggalan, antara lain berupa manik-manik, tembikar, kemudi kapal, tiang rumah kuno, dan bandul jaring ikan dari timah.

Ke-21 situs tersebar memanjang hingga 20 kilometer di enam desa di Kecamatan Lalan, yaitu Desa Mulya Agung yang memiliki lima situs, Desa Karya Mukti (sembilan situs), Desa Karang Mukti (empat situs), Desa Sri Agung (satu situs), Desa Sukajadi (satu situs), dan Desa Bumi Agung (satu situs). Peninggalan itu mengelompok di tepi sungai purba yang sudah mengering di kawasan Karangtengah, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pantai timur Sumatera.

Benda-benda temuan itu menguatkan asumsi bahwa di sana pernah berkembang Kerajaan Ko-Ying (abad IV) dan Kanto-Li (abad V-VI), sebelum Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII ). Kedua kerajaan itu pernah diceritakan dalam literatur China, seperti Fu Nan T’u Su Chuan dan Nun Choui Wu Chih, dan dikaji peneliti dari Cornell Univercity, Amerika Serikat, OW Wolters.(iam)
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1799
Jun 9, 2012
 
Islah wrote:
<quoted text>
What is the issue here? I think it has been clear in ancient times the term Java and its variants may well refer to either Java specifically, Sumatera, both Java and Sumatera, or to include the regions under the influence of Java, i.e., Indochina, especially the northern part of the Peninsula. Remember, even in relatively recent times the great european traveller Marco Polo could not even distinguished Sumatera and Java by name. Also, by calling Sumatera as Java minor, he thought that Sumatera was smaller in size than the real Java island.
Takde isu..saya lebih berasumsi bahwa julukan javaka pada chandrabanu lebih terkait erat dengan dinasti sailendra di pulau jawa (mungkin juga chandrabanu macam balaputeradeva yang masih berdarah jawa) dan nama sri dharmaraja juga lebih terkait erat dengan dinasti mauli dharmasraya di sumatera yang mereflesikan melebarnya pengaruh kekuasaan yang merupakan kolaborasi antara jawa dan sumatera di indochina bahkan sampai india...saya juga cenderung mengikut pendapat purbatjaraka bahwa kemungkinan dapunta selendra tidak berasal dari mana mana sejauh fakta2 arkeologis yang ada pada inskripsi sojomerto, inskripsi raja sankhara dan carita parahiyangan cuma masalahnya memang pada pemerintah kami yang kelihatan kurang serius menggali sejarah leluhur kami sendiri justru bahwa orang orang dari luarlah sejarah peradaban kami banyak terungkap...banyak situs situs sejarah pra sriwijaya di sumatera dan pra medang yang di jawa atau di bagian indonesia lainnya yang belum di kaji secara mendalam...
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1801
Jun 9, 2012
 
(sambungan)
Apalagi saat sekarang pemerintah pusat melalui Kemenbudpar tengah gencar mendaftarkan produk budaya bangsa RI ke Unesco, semestinya Kerinci memanfaatkan kesempatan ini, katanya.
Beberapa Sko Kerinci sangat khas dan langka, tidak ditemukan ada di tempat lain, seperti halnya naskah melayu tertua berupa kita undang-undang di desa Tanjung Tanah yang merupakan warisan dari raja Melayu pra Islam yakni Adityawarman.
Lalu beberapa bentuk budaya lainnya seperti aksaran Incoung, seni bersenandung Tale, tradisi tutur Kunoun dan Kba, berbagai seni pertunjukan tradisional seperti tarian, teater dan atraksi warisan budaya megalitik seperti tari Asek, tari Rangguk, Marcok. Begitu juga denjgan warisan sastra berupa mantra, pantun, seloko, penno, tambo dan lain sebagainya.
"Kesemua itu tidak ditemukan lagi di daerah lain di provinsi Jambi, masyarakat Kerinci malah harus berbangga karena telah mampu merawat dan melastarikan keberadaannya hingga jadi warisan budaya yang luhur dan abadi hingga kini," ucap Naswan.
Abadinya berbagai aset senibudaya warisan leluhur masyarakat Kerinci khususnya aset benda seperti naskah, senjata, jimat lain sebagainya, menurut Naswan, salah satu faktornya adalah karena masyarakat adat Kerinci sedari dulu telah memiliki sistem pemeliharaan atau penyimpananan yang khas dan terbukti kearifannya.
"Di Kerinci itu di setiap dusunnya memiliki museum sendiri yakni berupa rumah adat yang juga sekaligus menjadi balairung dan istana para Depati (para pemimpin adat). Di situ benda-benda pusaka yang disebut Sko itu di simpan dan dijaga sedemikian ketatnya hingga hanya bisa dikeluarkan dalam waktu tertentu dengan dengan ritual yang sangat ketat pula," terangnya.
Tidak hanya itu, tambahnya, Sko-sko Kerinci itu disimpan di tempat yang berbeda dari pada umumnya, yakni di atas Para (di atas loteng atau bumbungan atap) dibungkus kain dan dimasukkan ke dalam peti.
"Jadi sangat riskan dan dikuatirkan kalau penyimpanannya berpindah ke museum apalagi museum di Malaysia justeru akan mempercepat kerusakan karena ketidak cocokannya sistem perawatan yang digunakankan itu namanya sangat berbahaya," katanya.
Karena itu, Pemkab dan masyarakat Jambi khususnya Kerinci harus berupaya melawan setiap niatan untuk memindahkan aset kebudayaannya tersebut ke negeri lain, palagi kalau memang sudah tercium adanya gelagat akan terjadinya pengklaiaman.
"Kapan perlu kerahkan aksi massa guna menolak, kalau ada pihak yang tetap memaksa hendak membawa atau memindahkan Sko Kericni tersebut ke Malaysia, DKJ siap membantu memperjuangkan hak budaya masyarakat Kerinci tersebut," katanya.

Ada apa dengan kerajaan malaysia yang begitu gencar memburu sejarah melayu dan apakah tak menyadari bahwa secara de facto dan de jure sumatera adalah wilayah Republik Indonesia, adakah kepentingan politik kerajaan malaysia dalam hal ini...?
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1802
Jun 9, 2012
 
Islah wrote:
<quoted text>
Saya berpendapat nama javaka dan variasinya harus dilihat dari perspektif yg lebih luas dan lebih awal, melangkaui batas sejarah Indocina/utara Semenanjung. Variasi Java - Yava, Yavan, Yavana, Yuva, Yuna, Yu, Yunan, Yunani diguna secara tukarganti untuk mereferens satu suku dan daerah yg besar di utara-barat India dan Iran. Etimologinya sangat menarik dan jg mengundang kontroversi karena nama ini jg muncul dlm penceritaan Mesir, Iran, tentunya India dan jg Yahudi kuno (skitar tahun 500 sebelum masihi). Bahkan nama Yunan dikatakan berbasis Yavana. Ringkesnya Yavana dan Kambuja (menitiskan raja2 di Indochina) sangat terkait dan sekaligus memunculkan kekeliruan tentang asal muasal Java/Yava dan suku/ras Melayu. Jangan kaget kalau nanti akan muncul hipotesis nama Melayu (Yu) dlm konteks sosial adalah terbitan dari Yuva, bukan Mala (konteks alam) sebagaimana hujahan Cik Sri.
Apapun, pada masa Chandrabanu, saya masih percaya gelar Javaka mereferens daerah spesifik di utara Semenanjung, walaupun nama Java juga mereferens seluruh alam Nusantara, justru pengaruh Sailendra yg menduniakan nama J/Yava. Sy menghipotesis gelar Javaka diguna oleh Chandrabanu utk memperoleh wibawa dan legitimasi penaklukan terhdp Srilanka. Sementara Sujita pula daerah pengaruhnya masih sekitar Yavaka sendiri (Lawo), justru tidak dibutuhkan gelar Javaka itu.
Variasi kata Yava apabila di pahami secara spesifik berdasarkan masa kronologisnya tentu akan di pahami secara jelas...kita harus melihat sejarah secara global..kapan era pengaruh Hindu bermula..kapan era pengaruh budha bermula..dan bagaimana koneksinya dengan spice route yang terkait dengan penyebaran pengaruh budaya budaya dari india, eropa atau timur tengah ke nusantara..sudah pasti tentu arti yavana dengan yavadvipa juga berbeda bukan..

“Islah AnNafs”

Since: Feb 12

Location hidden

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1803
Jun 9, 2012
 
Kapita baykole wrote:
<quoted text>
Variasi kata Yava apabila di pahami secara spesifik berdasarkan masa kronologisnya tentu akan di pahami secara jelas...kita harus melihat sejarah secara global..kapan era pengaruh Hindu bermula..kapan era pengaruh budha bermula..dan bagaimana koneksinya dengan spice route yang terkait dengan penyebaran pengaruh budaya budaya dari india, eropa atau timur tengah ke nusantara..sudah pasti tentu arti yavana dengan yavadvipa juga berbeda bukan..
Setuju, pendapat anda sangat valid. Kita harus memahami evolusi agama Hindu dan Buddhism yg semulanya diawali ajaran Vedha tua (Brahma). Ajaran Budha sangat bertentangan dgn Vedic tua dalam beberapa hal sehingga kedua2 komunitas umumnya tidak bisa serasi berdampingan. Perhatikan bagaimana keberadaan ajaran Budha di India sekarang? Teks ajaran Vedha tua mengguna bhs Sankrit-Vedic (Parsi tua). Ini lah jalur Sanskrit yg byk mempengaruhi Bhs Jawa kuno. Nama Javadwipa yg muncul dlm teks Ramayana relatif baru (skitar abad 5 sebelum masihi). Penceritaan kembara Yavana, Kambuja, Saka dll, jauh lebih awal di jaman agama Brahma, terutama di era kemunculan agama Budha yg dianggap sebagai penyimpangan atau pelarian (Yu) dari ajaran Vedha. Etimologi Yavana/Java/Yava/Yuva dan juga tidak terhindar istilah Melayu harus terkait dengan konteks ini. Harus juga diketahui kata Hindu diguna kolonial British di India secara agregat/generik untuk mereferens mereka yg bukan beragama Islam, Sikh, Jain, dll. Disayangkan ahli-ahli sejarah kita sering mengguna istilah ini secara pukal/aggregat tanpa memerhatikan implikasinya dlm memahami dinamika sejarah Nusantara.
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1804
Jun 9, 2012
 
Islah wrote:
<quoted text>
Setuju, pendapat anda sangat valid. Kita harus memahami evolusi agama Hindu dan Buddhism yg semulanya diawali ajaran Vedha tua (Brahma). Ajaran Budha sangat bertentangan dgn Vedic tua dalam beberapa hal sehingga kedua2 komunitas umumnya tidak bisa serasi berdampingan. Perhatikan bagaimana keberadaan ajaran Budha di India sekarang? Teks ajaran Vedha tua mengguna bhs Sankrit-Vedic (Parsi tua). Ini lah jalur Sanskrit yg byk mempengaruhi Bhs Jawa kuno. Nama Javadwipa yg muncul dlm teks Ramayana relatif baru (skitar abad 5 sebelum masihi). Penceritaan kembara Yavana, Kambuja, Saka dll, jauh lebih awal di jaman agama Brahma, terutama di era kemunculan agama Budha yg dianggap sebagai penyimpangan atau pelarian (Yu) dari ajaran Vedha. Etimologi Yavana/Java/Yava/Yuva dan juga tidak terhindar istilah Melayu harus terkait dengan konteks ini. Harus juga diketahui kata Hindu diguna kolonial British di India secara agregat/generik untuk mereferens mereka yg bukan beragama Islam, Sikh, Jain, dll. Disayangkan ahli-ahli sejarah kita sering mengguna istilah ini secara pukal/aggregat tanpa memerhatikan implikasinya dlm memahami dinamika sejarah Nusantara.
Inskripsi Han chey pada abad ke 6 yang menggunakan bahasa khmer yang terdapat kalimat malamalumivamalam raja secara kronologis masanya berdekatan dengan definisi tentang lokasi detail negeri melayu oleh i-tsing pada 671 AD raja raja di kamboja sebelum era bhavavarman pun telah guna bahasa khmer pada inskripsi inskripsinya jadi saya lebih berasumsi bahwa dinasti mauli melayu memanglah dari dulu lebih berpusat di sumatera dari pada di ligor/trambalinga...saya lebih berasumsi bahwa trambalinga dari awal juga merupakan negara di bawah pengaruh dari negeri melayu di sumatera sebelum era sriwijaya bermula...
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1805
Jun 9, 2012
 
Aspek aspek kehidupan tradisi megalitik dataran tinggi jambi

Dataran tinggi Jambi merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Kawasan tersebut dapat dicapai dari kota Bangko, ibukota Kabupaten Merangin. Kota Bangko ditempuh dari kota Palembang dengan jalan darat melalui kota Lubuk Linggau dan kota Sarolangun kurang-lebih sejauh 563 km. Sementara itu, dari kota Jambi dapat ditempuh melalui kota Muara Tembesi dan kota Sarolangun sejauh 268 km.

Dataran tinggi Jambi merupakan kawasan pemukiman manusia sejak dahulu, maka penelitian arkeologi di kawasan tersebut perlu dilakukan untuk merunut sebaran dan perkembangan manusia dan budayanya. Di Gua Ulu Tiangko, Kabupaten Merangin, August Tobler pada tahun 1913 melakukan ekskavasi penjajagan dan menemukan alat serpih. Kemudian pada tahun 1926 J. Zwierzycki di sebuah gua dekat Ngalau, Merangin, menemukan artefak dari obsidian dan batu lain. Alat-alat batu yang ditemukan di kedua situs tersebut termasuk serpih bilah Mesolitik (Heekeren,1972:137 – 139) yang menurut R.P. Soejono berasal dari masa berburu tingkat lanjut (1993:182). Di Gua Tiangko Panjang, 5 kilometer sebelah selatan Gua Ulu Tiangko, Bennet Bronson dan Teguh Asmar pada tahun 1974 menemukan lapisan tembikar yang di bawahnya terdapat alat-alat obsidian. Lapisan budaya tersebut berumur 9.210 ± 130 BP dan 10.250 ± 140 BP (Soejono,1993:182).

Pemukiman-pemukiman prasejarah masa Mesolitik ternyata tidak hanya terdapat di gua-gua di Kabupaten Merangin, tetapi juga di tepi danau di Kabupaten Kerinci. Pada tahun 1939 Van der Hoop mengumpulkan temuan permukaan berupa alat serpih obsidian di sekitar Danau Gadang Estate, dekat Danau Kerinci. Menurut van Heekeren, alat serpih dari tepi danau tersebut lebih besar daripada alat serpih bilah dari gua-gua di Merangin (1972:139). Alat serpih tersebut termasuk mikrolit, tetapi bentuknya tidak geometris seperti alat mikrolit pada umumnya (Soejono,1993:182).

Dataran tinggi Jambi dapat dikatakan merupakan kawasan pedalaman yang jauh dari jalur perdagangan maritim. Selain itu juga bergunung-gunung dan berbukit-bukit dengan sungai-sungai bertebing terjal, sehingga menghambat mobilitas horisontal. Namun, ternyata kawasan tersebut tidak benar-benar terisolasi. Museum Nasional Jakarta mengumpulkan temuan lepas dari Kerinci berupa tiga buah benda keramik Cina dari dinasti Han (abad ke-1 – 3 M). Menurut Abu Ridho, ketiga benda keramik tersebut berupa bejana penjenazahan dari dinasti Han (abad 1 – 2 M), mangkuk sesaji dari dinasti Han (abad ke-1 – 3 M), dan guci tempat anggur bertutup dari dinasti Han (abad 1 – 2 M)(1979:105 – 118). Pengaruh kebudayaan Hindu-Buda pun hampir tidak terlihat di Kerinci dan Merangin. Hingga kini belum ditemukan situs-situs Hindu-Buda di kedua wilayah tersebut, tetapi di Kerinci ditemukan arca lepas berupa dua buah arca Boddhisattwa perunggu berukuran kecil (tinggi 16 cm)(Schnitger,1937:13).

“Islah AnNafs”

Since: Feb 12

Location hidden

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1806
Jun 9, 2012
 
Kapita baykole wrote:
<quoted text>
Inskripsi Han chey pada abad ke 6 yang menggunakan bahasa khmer yang terdapat kalimat malamalumivamalam raja secara kronologis masanya berdekatan dengan definisi tentang lokasi detail negeri melayu oleh i-tsing pada 671 AD raja raja di kamboja sebelum era bhavavarman pun telah guna bahasa khmer pada inskripsi inskripsinya jadi saya lebih berasumsi bahwa dinasti mauli melayu memanglah dari dulu lebih berpusat di sumatera dari pada di ligor/trambalinga...saya lebih berasumsi bahwa trambalinga dari awal juga merupakan negara di bawah pengaruh dari negeri melayu di sumatera sebelum era sriwijaya bermula...
Di trit lain sy pernah menghujahkan inskripsi Han Chey antaranya menceritakan sukses Bhavavarman menjadi raja kepada daerah2 takluk yg dulunya dikuasai raja2 gunung (Funan). Dipercaya Palembang dan Molayu diJambi kemudian dikuasai oleh saki baki pengaruh Funan yg sebelumnya berjaya menyatukan Kedah Tua, Pan-Pan dan Chi-tu menjadi Srivijaya Tua yg terpusat di Chaiya. Saya cenderung percaya Srivijaya tua telah diperkuat dgn pengaruh Malayu murni (Sumatera) dan Java, terutamanya lewat Sailendra. Melalui Sailendra, Chaiya direbut kembali setelah sempat jatuh ke tangan Chenla.
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1808
Jun 12, 2012
 
Islah wrote:
<quoted text>
Di trit lain sy pernah menghujahkan inskripsi Han Chey antaranya menceritakan sukses Bhavavarman menjadi raja kepada daerah2 takluk yg dulunya dikuasai raja2 gunung (Funan). Dipercaya Palembang dan Molayu diJambi kemudian dikuasai oleh saki baki pengaruh Funan yg sebelumnya berjaya menyatukan Kedah Tua, Pan-Pan dan Chi-tu menjadi Srivijaya Tua yg terpusat di Chaiya. Saya cenderung percaya Srivijaya tua telah diperkuat dgn pengaruh Malayu murni (Sumatera) dan Java, terutamanya lewat Sailendra. Melalui Sailendra, Chaiya direbut kembali setelah sempat jatuh ke tangan Chenla.
Saya lebih berasumsi bahwa lokasi melayu yang tepat sebenar benarnya sesuai fakta historis adalah sesuai definisi i-tsing pada 671 AD dan tetap tidak berubah lokasinya 6 abad kemudian tepatnya sesuai kalimat bhumi malayu pada inskripsi padang roco 1286 AD sedangkan semenanjung adalah daerah peralihan yang terkadang berada di bawah pengaruh melayu ataupun khmer...pengaruh kultur funan tidaklah mencapai sumatera...pengaruh vedic masuk ke indonesia berkisar 400 AD sesuai fakta arkeologis yang ada...
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1809
Jun 12, 2012
 
Java around 400 AD pra sailendra dinasty...

Jambu inscription

siman=data krtajnyo narapatir=asamo yah pura tarumayam/ nama sri purnnavarmma pracura ri pusara bhedya bikhyatavarmmo/
tasyedam= pada vimbadvayam= arinagarot sadane nityadaksam/ bhaktanam yandripanam= bhavati sukhakaram salyabhutam ripunam//

"Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termashyur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya."

Cidanghiyang inscription

Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah

"Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja."

Ciaruteun inscription

vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam

“inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawamman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Kebun kopi inscription

~~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~~
Airwavatabhasya vibhatidam= padadvayam

“Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki…yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan”

“Islah AnNafs”

Since: Feb 12

Location hidden

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1810
Jun 12, 2012
 
Kapita baykole wrote:
<quoted text>
Saya lebih berasumsi bahwa lokasi melayu yang tepat sebenar benarnya sesuai fakta historis adalah sesuai definisi i-tsing pada 671 AD dan tetap tidak berubah lokasinya 6 abad kemudian tepatnya sesuai kalimat bhumi malayu pada inskripsi padang roco 1286 AD sedangkan semenanjung adalah daerah peralihan yang terkadang berada di bawah pengaruh melayu ataupun khmer...pengaruh kultur funan tidaklah mencapai sumatera...pengaruh vedic masuk ke indonesia berkisar 400 AD sesuai fakta arkeologis yang ada...
Kita tidak berbeda dari sisi meyakini akar budaya Melayu murni dari Sumatera. Namun, saya masih percaya Funan (lewat Srivijaya tua) mempunyai kaitan dgn perubahan agama Veda di Molayu kepada Budha, juga beralihnya anutan Sailendra di Java Tengah kepada Budha. Semulanya Sailendara bernafas Veda.
Kapita baykole

Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1811
Jun 13, 2012
 
Islah wrote:
<quoted text>
Kita tidak berbeda dari sisi meyakini akar budaya Melayu murni dari Sumatera. Namun, saya masih percaya Funan (lewat Srivijaya tua) mempunyai kaitan dgn perubahan agama Veda di Molayu kepada Budha, juga beralihnya anutan Sailendra di Java Tengah kepada Budha. Semulanya Sailendara bernafas Veda.
Saya rasa tidak cukup valid apabila sejarah hanya di bentuk dengan sekedar mengkoneksikan rekod rekod dari dinasti sui dan chiang mai chronicles...kitorang tara mengarti dorang sejahrawan malaysian bisa berspekulasi mengasumsikan sebuah kerajaan yang di sebut sriwijayamala...asumsi petatah petitih tentang javakoti di kelantan sangat tak sahih untuk membuktikan bahwa peradaban jawa berasal dari semenanjung...secara arkeologis juga kerajaan2 di semenanjung macam langkasuka, gangga negara, pan pan, tanah merah yang katanya kerajaan canggih tak pun meninggalkan bukti bukti peradaban yang gemilang...satu sejarah lebih bersifat untuk mendukung kepentingan politik dari pada kajian yang betul2 ilmiah dan valid...saya juga tak mengerti kenapa formalay selalu berasumsi bahwa jawa selalu identik dengan majapahit.

“Islah AnNafs”

Since: Feb 12

Location hidden

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1812
Jun 13, 2012
 
Kapita baykole wrote:
<quoted text>
Saya rasa tidak cukup valid apabila sejarah hanya di bentuk dengan sekedar mengkoneksikan rekod rekod dari dinasti sui dan chiang mai chronicles...kitorang tara mengarti dorang sejahrawan malaysian bisa berspekulasi mengasumsikan sebuah kerajaan yang di sebut sriwijayamala...asumsi petatah petitih tentang javakoti di kelantan sangat tak sahih untuk membuktikan bahwa peradaban jawa berasal dari semenanjung...secara arkeologis juga kerajaan2 di semenanjung macam langkasuka, gangga negara, pan pan, tanah merah yang katanya kerajaan canggih tak pun meninggalkan bukti bukti peradaban yang gemilang...satu sejarah lebih bersifat untuk mendukung kepentingan politik dari pada kajian yang betul2 ilmiah dan valid...saya juga tak mengerti kenapa formalay selalu berasumsi bahwa jawa selalu identik dengan majapahit.
Saya tidak ada masalah untuk bersetuju dgn pendapat anda. Penafsiran sejarah boleh berubah saat munculnya bukti atau hujahan baru. Saya tak fikir formalay yg muncul di forum ini adalah ahli sejarah yg terlatih secara formal. Kebanyakkannya memang mencintai sejarah tetapi cenderung berorientasikan etnis (Melayu) sentris yg melihat sejarah Nusantara secara sempit, mungkin terpengaruh dgn pandangan Cik Sri, realitas sosio-politik di Msia dan juga peran Bhs Melayu (Indonesia) yg telah mendunia. Mereka juga hanya menguasai satu sub-bahasa Austronesia saja (Melayu) dan mengabaikan pengaruh dan peran bhs suku Nusantara yg terbesar. Namun saya agak hairan bila Cik Sri menghujahkan Mala terbahagi kepada dua - Melayu dan Java, tidak pula mereka menyerlahkannya di sini.
RAJA SRIWIJAYA

Pekanbaru, Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1813
Jun 19, 2012
 
Nasionalis indon wrote:
<quoted text>hoi dungu..kalau kata semenanjung..semenanjung tu macamana?macam peta politik hari ini ke? kau tahu tak wilayah2 thailand dahulu adalah sebahagian dari semenanjung..kalau tidak kerana peta politik harini..peta semenanjung ibarat sebijik buah mangga yang mempunyai tangkainya..kalau kau bilang semenanjung tiada prasasti? itu apa kejadahnya prasasti ligor,prasasti kedah,batu bersurat terengganu,prasasti temasik..pemikiran eloe masih dungu..jika tidak kerana penjajah,sebahagian thailand,sumatera,singapore,br unei dan tanah melayu adalah sebuah negara melayu yang besar..
iya..ialah jadi melayu yang besar menurut kehendak british....:D

ia akan jadi negara java yang besar menurut orang2 hindu (majapahit)

ia akan jadi negara sunda yang besar menurut peneliti dan sejarahwan

ia akan menjadi srivijaya yang besar menurut orang palembang

tetapi, ia akan jadi dharmasraya yang besar menurut orang melayu...:D
Maja

Jakarta, Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1814
Jun 21, 2012
 
Islah wrote:
<quoted text>
Chaiya, dulu kala bagian dari wilayah kerajaan Funan. Setelah Funan dikalahkan Chenla, waris2 raja Funan memunculkan Chaiya sebagai pusat pemerintahan Srivijaya tua yg menggabungkan Kedah Tua, Pan-pan dan Chi-tu. Wilayah Srivijaya tua masih sekitar utara Semenanjung. Kemuncak Srivijaya dijaman penguasaan Sailendra di Java.
Saya sering mengikuti uraian anda dalam forum ini - uraian anda selalu menarik.

Di atas anda menuliskan bahwa Srivijaya tua berawal dari pewaris Kerajaan Funan. Yang ingin saya tanyakan pada anda apakah Kerajaan Funan ini secara etnis, budaya dan bahasa adalah Melayu ?

Karna ketika Srivijaya berpusat Palembang jelas banyak digunakan bahasa Melayu Kuno pada prasasti yg ditinggalkannya. Ini bertentangan dgn sedikitnya ( atau mungkin tidk ada ) ditemukan prasasti berbahasa Melayu di wilayah yg anda sebut Srivijaya Kuno ( Chaiya, Kedah, Pan-pan, Ci-tu ) pada masa yg sama yaitu abad ke 7 seperti yg banya terdapat di Pulau Sumatra dan Jawa.

Bahkan pada prasasti Ligor tiak digunakan bahasa Melayu. Apakah ini menunjukan wilayah yg anda sebut Srivijaya Kuno bukanlah wilayah dari etnis, budaya dan bahasa Melayu ?

Mungkin akan lebih menarik jika uraian sejarah ini didukung juga dgn pendekatan sejarah Linguistik dan sejarah gen DNA.

“Islah AnNafs”

Since: Feb 12

Location hidden

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1815
Jun 21, 2012
 
Maja wrote:
<quoted text>
Saya sering mengikuti uraian anda dalam forum ini - uraian anda selalu menarik.
Di atas anda menuliskan bahwa Srivijaya tua berawal dari pewaris Kerajaan Funan. Yang ingin saya tanyakan pada anda apakah Kerajaan Funan ini secara etnis, budaya dan bahasa adalah Melayu ?
Karna ketika Srivijaya berpusat Palembang jelas banyak digunakan bahasa Melayu Kuno pada prasasti yg ditinggalkannya. Ini bertentangan dgn sedikitnya ( atau mungkin tidk ada ) ditemukan prasasti berbahasa Melayu di wilayah yg anda sebut Srivijaya Kuno ( Chaiya, Kedah, Pan-pan, Ci-tu ) pada masa yg sama yaitu abad ke 7 seperti yg banya terdapat di Pulau Sumatra dan Jawa.
Bahkan pada prasasti Ligor tiak digunakan bahasa Melayu. Apakah ini menunjukan wilayah yg anda sebut Srivijaya Kuno bukanlah wilayah dari etnis, budaya dan bahasa Melayu ?
Mungkin akan lebih menarik jika uraian sejarah ini didukung juga dgn pendekatan sejarah Linguistik dan sejarah gen DNA.
Terima kasih atas pemerhatian dan pertanyaan sdra.
Unsur2 Bhs Austronesia kuno mula berkembang di Champa (Vietnam)-semulanya dari Borneo (utara dan barat). Terdahulu, sebelum Bhs Austronesia proto terbentuk di Taiwan, saya percaya Bhs Pra Austronesia sudah mempengaruhi Bhs2 Austroasia di Indocina. Justru itu, dari basis kultur-geo-ekonomi, saya percaya etnis Funan lebih identik dengan budaya dan bhs induk Austroasia (Mon-Khmer), meski ada pengaruh Bhs Austronesia kuno karena pembauran juga berlaku antara Funan-Chenla-Champa. Ini diperkuat dengan bukti bhs2 non-Austronesia di prasasti2 yg ada. Mungkin hadir beberapa kosakata Austronesia di prasasti2 tertentu, tetapi tak semestinya ia merefleksi dominansi bhs/etnis Melayu di Indocina. Kita tahu bahasa2 rumpun Austronesia sangat terkait, suku Cham (berbhs Austronesia) juga mempunyai identitas tersendiri.

Saya cenderung percaya induk budaya dan bhs Melayu murni muncul dan berkembang di daerah Sumatera Tengah-Selatan. Perhatikan, Jawa Barat adalah refleksi transisi Sunda/Jawa dan Melayu. Penguasaan Srivijaya oleh Sailendra dan seterusnya Dhamasraya memunculkan pengaruh Nusantara di Indocina dan Semenanjung.
Haji Muhammad Abdullah

Jakarta, Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1816
Jun 21, 2012
 
Boleh jadi kerajaan Sriwijaya berasal dari Thailand atau berasal dari Funan-Chenla-champa berdasarkan agama Buddha;

tetapi terjadi perubahan di dalam kerajaan Sriwijaya karena ada perdagangan dan perniagaan antara kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan2 di China atau kerejaan Sriwijaya dengan kerajaan2 Arab di Timur Tengah

Panji MERAH PUTIH yang dipergunakan oleh kerajaan Sriwijaya adalah pengaruah Arab yang beragama Islam dengan pengaruh China yang beragama Kong Hu Chu. Islam menggunakan warna putih sebagai lambang kebersihan dan China menggunakan warna merah sebagai lambang keberhasilan

Islam memperbesar kerajaan Sriwijaya dan merubah kerajaan Sriwijaya; sehingga kerajaan Sriwijaya pindah dari sungai Musi di Palembang ke Riau yang berbentuk kerjaan Melayu

Jika kita membaca satra2 (buku2, kitab2) yang menggunakan bahasa Melayu pada awwal pertumbuhan atau perkembangan bahasa Melayu, maka kita akan temukan di Sumatra, bukan di kerajaan Langkasuka yang berada di Kedah Malaysia dan bagian selatan Thailand
Haji Muhammad Abdullah

Jakarta, Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1817
Jun 21, 2012
 
BAGIAN KE DUA

Walaupun bahasa Melayu berasal dari bahasa Sanskrit (sansekerta), Kerajaan Langkasuka masih menggunakan bahasa Sanskrit (Sangsekerta) bukan bahasa Melayu, begitu juga kerajaan Sriwijaya berdasarkan tulisan2 di batu batu yang ditemukan sebagai bukti sejarah

Bahasa Melayu kuno, bahasa Melayu pertama ditemukan dalam kitab2 sastra Melayu yang tertua. Kitab2 sastra Melayu berasal dari pulau Sumatra Indonesia, bukan berasal (bukan berawal, bukan bermula) dari kerajaan Langkasuka di Kedah Malaysia

“Islah AnNafs”

Since: Feb 12

Location hidden

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1818
Jun 21, 2012
 
Haji Muhammad Abdullah wrote:
BAGIAN KE DUA
Walaupun bahasa Melayu berasal dari bahasa Sanskrit (sansekerta), Kerajaan Langkasuka masih menggunakan bahasa Sanskrit (Sangsekerta) bukan bahasa Melayu, begitu juga kerajaan Sriwijaya berdasarkan tulisan2 di batu batu yang ditemukan sebagai bukti sejarah
Bahasa Melayu kuno, bahasa Melayu pertama ditemukan dalam kitab2 sastra Melayu yang tertua. Kitab2 sastra Melayu berasal dari pulau Sumatra Indonesia, bukan berasal (bukan berawal, bukan bermula) dari kerajaan Langkasuka di Kedah Malaysia
Sdra,
Bhs Melayu berakar dari Bhs Austronesia tetapi perkembangannya banyak dipengaruhi Sanskrit, sub bahasa Austronesia lain, Arab, Inggeris, dll. Diawal perkembangannya, Bhs Melayu kuno identik dengan Jawa kuno karena hanya dipengaruhi Sanskrit.
MELAYU RIAU

Pekanbaru, Indonesia

|
Report Abuse
|
Judge it!
|
#1819
Jun 21, 2012
 
Haji Muhammad Abdullah wrote:
Boleh jadi kerajaan Sriwijaya berasal dari Thailand atau berasal dari Funan-Chenla-champa berdasarkan agama Buddha;
tetapi terjadi perubahan di dalam kerajaan Sriwijaya karena ada perdagangan dan perniagaan antara kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan2 di China atau kerejaan Sriwijaya dengan kerajaan2 Arab di Timur Tengah
Panji MERAH PUTIH yang dipergunakan oleh kerajaan Sriwijaya adalah pengaruah Arab yang beragama Islam dengan pengaruh China yang beragama Kong Hu Chu. Islam menggunakan warna putih sebagai lambang kebersihan dan China menggunakan warna merah sebagai lambang keberhasilan
Islam memperbesar kerajaan Sriwijaya dan merubah kerajaan Sriwijaya; sehingga kerajaan Sriwijaya pindah dari sungai Musi di Palembang ke Riau yang berbentuk kerjaan Melayu
Jika kita membaca satra2 (buku2, kitab2) yang menggunakan bahasa Melayu pada awwal pertumbuhan atau perkembangan bahasa Melayu, maka kita akan temukan di Sumatra, bukan di kerajaan Langkasuka yang berada di Kedah Malaysia dan bagian selatan Thailand
sdr, kerajaan srwijaya indonesia bukan berasal dari funan ataupun dari semenanjing..
kerajaan sriwijaya indonesia pertamanya tidak beragama budha, melainkah hindu,,,terbukti dari prasasrti sojomerto abad ke-5 mengatakan dapunta syailendra menyembah syiwa..
barulah 100 tahun kemudian wangsa syailendra berubah menjadi budha dan mendirikan borobudur..
ini rute perjalan bangsa indonesia berdasarkan teori out africa:
afrika-> mesopotamia-> china-> formosa--> indonesia
ini rute perjalanan bangsa beruk:
afrika--> tamil--> yunan--> semenanjing

Tell me when this thread is updated: (Registration is not required)

Add to my Tracker Send me an email

Showing posts 1,701 - 1,720 of23,366
|
Go to last page| Jump to page:
Type in your comments below
Name
(appears on your post)
Comments
Characters left: 4000

Please note by clicking on "Post Comment" you acknowledge that you have read the Terms of Service and the comment you are posting is in compliance with such terms. Be polite. Inappropriate posts may be removed by the moderator. Send us your feedback.

•••
•••
•••
•••