Bakso Tikus Beredar Lagi di Bogor

Posted in the Indonesia Forum

bruce lee

Malaysia

#1 Sep 30, 2010
Edisi 34 (16-30 Apr 2008)
Bogor, PAB-Indonesia
Bakso dengan daging tikus dicurigai beredar lagi di Kota Bogor. Secara tak sengaja, kasus ini ditemukan langsung kali pertama oleh Sisyani, auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).
Bakso yang dibelinya dari salah satu ruko di kompleks Taman Yasmin tersebut mengandung bulu tikus. Bulunya terlihat dengan kasat mata ketika ia memotong bakso tersebut.“Sampel ada di LPPOM MUI,” tandas ujar Direktur LPPOM MUI Dr Nadratuzzaman Hosen.
LPPOM MUI saat ini terus meneliti kasus ini. Tidak menutup kemungkinan bakso tikus itu juga beredar di tempat-tempat lain. Selain meneliti kemungkinan peredaran bakso bercampur daging tikus, LPPOM MUI juga meneliti berbagai makanan di Bogor yang tercampur barang haram. Diantaranya penggunaan ang ciu (arak merah) pada masakan.
Dari survey Jurnal Halal diketahui 60 persen warung dan rumah makan di Bogor, terutama yang menjual masakan capcay, cah kangkung, tumis hingga nasi goreng menggunakan barang haram tersebut.
‘’Bukan hanya yang dikelola warga etnis Cina, tetapi juga yang dikelola pribumi akibat ketidaktahuan mereka,’’ jelas Hosen.
Belum lagi penggunaan lap chong (kaldu) pada mi ayam. Hosen mengatakan, Jurnal Halal pernah melakukan survey di Pasar Bogor dan menemukan kaldu tersebut dalam kemasan botol.Menurut, penjualnya ada beberapa jenis lap chong mulai lemak ayam sampai lemak babi. Produk tersebut beredar di masyarakat, khususnya digunakan para pedagang mi ayam dan bakso. Masalahnya, kita tidak pernah tahu persis apakah pedagang mi ayam maupun bakso menggunakan lap chong dari lemak babi atau ayam.
Masalah lainnya penggunaan kuas bulu. Para pedagang martabak dan roti sering menggunakan kuas untuk mengoles kue dan loyang. Kajian yang dilakukan LPPOM MUI banyak kuas tersebut terbuat dari bristle (bulu babi, red).
“Penggunaan yang najis tersebut tentu saja bisa mempengaruhi kehalalan kue, martabak atau roti yang dihasilkan,” tandas Hosen. Disamping itu, merebak juga isu yang berisi ham atau daging babi.
Selebihnya, kata Hosen, keberadaan para pedagang makanan baik yang menjual masakan siap saji maupun makanan untuk khas Bogor yang tidak diketahui persis kehalalannya.‘’Mereka itu perlu dibina dan diarahkan. Ke depannya, senantiasa menggunakan bahan halal dan memasak atau memprosesnya secara halal pula.
Hal lain yang dikritisi adalah keberadaan Rumah Potong Hewan(RPH) sapi dan babi yang masih satu lokasi di Jalan Pemuda. Menurut Hosen pada penyembelihan sapi dan babi masih dalam satu lokasi.“Meski lokasinya dipisah dan pemotongannya berbeda, namun keberadaannya di satu lokasi masih memungkinkan terjadinya kontaminasi silang,” katanya.
Bisa saja tercampur antara daging sapi dan babi saat pengiriman jika tujuan pengirimannya sama.“Masalah ini sudah sering dibicarakan, tapi Dinas Peternakan (Agribisnis, red) mengaku masih kesulitan memindahkan pemotongan babi dengan alasan dana,” ujar Hosen.
Pertanyaannya, sampai kapan kondisi darurat ini masih harus dipertahankan? Belum lagi kasus maraknya daging oplosan di pasar.“Hampir setiap tahun kasus daging sapi yang dioplos celeng atau babi hutan selalu terjadi, termasuk Bogor,” tandas Hosen.
bruce lee

Malaysia

#2 Sep 30, 2010
Alasannya, himpitan ekonomi dan tingginya harga daging sapi. Ia mengatakan harga daging sapi yang mencapai lebih Rp40 ribu per kilogram menyebabkan pedagang dan pembeli cenderung menggunakan daging celeng yang bisa dijual seharga kurang dari Rp20 ribu per kilogram. Kasus ini pernah terjadi di Parung dan Pasar Anyar Bogor serta menjadi masalah bersama yang harus ditangani secara menyeluruh.
Ayam bangkai pun menjadi keresahan masyarakat. Akibat pengangkutan ayam dan para peternak ke rumah potong ayam (RPA) menyebabkan rata-rata 0,5 persen ayam tersebut mati sebelum disembelih.“Ini hasil penelitian PPA dan Dirjen Peternakan,” ujar Hosen. Seharusnya ayam bangkai tersebut dimusnahkan atau diberikan kepada hewan ternak. Lagi-lagi, karena desakan ekonomi, ayam bangkai tersebut masih saja dipergunakan untuk konsumsi manusia. Kasus ini pernah terjadi di Ciomas, Parung, Ciseeng. Sementara itu, Kepala RPH Kota Bogor Syarif Hidayat menegaskan RPH yang berlokasi di Jalan Pemuda itu memang suah berdiri sejak zaman Belanda tahun 1930. Keberadaannya sudah sedemikian rupa.“Tapi ketentuan dan pembatasnya jelas,” ujarnya.

Tell me when this thread is updated:

Subscribe Now Add to my Tracker

Add your comments below

Characters left: 4000

Please note by submitting this form you acknowledge that you have read the Terms of Service and the comment you are posting is in compliance with such terms. Be polite. Inappropriate posts may be removed by the moderator. Send us your feedback.

Indonesia Discussions

Title Updated Last By Comments
FORUM GiGOLO & PELACUR (silakan isi) (Feb '13) 3 min Ardhi 5,479
tukar no hp jablay, bisyar, bispak, tante girang (Aug '13) 5 min rahardiansyah 12,699
Cowok Cari Pacar Cewek Hypersex suka Phonesex (Nov '12) 9 min haikal bogor 24,831
Cewek/Tante Sange SUMUT mau ML,PS tinggalin No ... 26 min azhar 65
pijat wanita dengan hasil memuaskan (Apr '14) 27 min dragon 225
cara biar wife mau 3s/ swinger (Feb '13) 28 min renoisme 975
Komunitaz tante pencari kepuasan Kusus daerah m... (May '12) 35 min andi 2,045
forum tukar pasangan / swinger & threesome solo (Jul '13) 50 min Ria 7,467
nomor tante girang (Oct '12) 3 hr rendy bryan 9,045
aku janda kesepian (Jun '13) 3 hr ryan 1,492

Indonesia People Search

Addresses and phone numbers for FREE