|
ROKOK KRETEK
Jakarta, Indonesia
|
Masyarakat Timor Leste Mulai Sesali Perpisahan Dengan NKRI Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail Jumat, 24 November 2006 Masyarakat Timor Leste merasa menyesal harus memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Repubkil Indonesia (NKRI) melalui referendum Hidayatullah.com --Sebagian besar masyarakat Timor Leste yang memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Repubkil Indonesia (NKRI) melalui referendum mulai menyesali perpisahan tersebut. "Yang menikmati kemerdekaan Timor Leste hanyalah kelompok tertentu saja, sementara kehidupan mayoritas masyarakat Timor Leste yang tersebar di berbagai pelosok desa kian menderita, ketidakstabilan keamanan terjadi hingga saat ini," kata Ny. Domingos kepada wartawan di Mataram, Jumat. Ny. Domingos yang kebetulan datang berkunjung ke Mataram guna menjenguk saudaranya menuturkan kehidupan masyarakat Timor Leste setelah merdeka dibandingkan saat menjadi bagian integral dengan NKRI, sangatlah memprihatinkan. Sebagian besar penduduk pedesaaan Timor Leste yang hidup di masa integrasi dengan NKRI merasa menyesal, mereka berkeinginan untuk kembali merasakan hidup bebas seperti dulu. Masyarakat Timor Leste dalam dua tahun terakhir merasakan hidup tidak aman di negaranya sendiri, karena pertikaian antara kelompok, khususnya masyarakat Timor Leste bagian Timur dengan masyarakat Timor Leste bagian Barat hingga saat ini belum reda. Hampir setiap hari terjadi pertikaian kelompok yang menyebabkan tewasnya sejumlah warga Timor Leste. Suasana itu telah menyebabkan banyak pengusaha dari Indonesia (Jakarta, Surabaya, Kupang dan Atambua) yang terpaksa meninggalkan kota Dili. Di samping itu, biaya hidup di negara Timor Leste yang baru merdeka tersebut cukup tinggi, harga BBM jenis premium maupun minyak tanah harganya lebih dua kali lipat dari harga yang ada di Indonesia. Harga eceran premium bisa mencapai 2,5 dolar US atau setara dengan Rp15.000 per liter, demikian juga harga minyak tanah bisa mencapai hampir Rp10.000/liter, sehingga minyak tanah banyak yang didapat dari daerah perbatasan melalui para pelintas batas. "Kondisi kehidupan mereka yang kian sulit itu menyebabkan sebagian dari mereka sering mengungkapkan rasa penyesalan berpisah dengan NKRI, karena di masa integrasi masyarakat Timor Leste memiliki kehidupan yang lebih baik, padahal tujuan mereka merdeka sebelumnya agar mendapatkan kehidupan yang lebih dibanding sebelumnya," katanya. Menjawab pertanyaan, Ny. Domingos mengemukakan hingga kini belum ada perubahan pembangunan yang dilakukan pemerintahan Presiden Xanana Gusmao, karena bangunan-bangunan yang terbakar di masa jajak pendapat tahun 1999, tidak satupun yang diperbaiki. Bangunan peninggalan orang-orang Indonesia tersebut hingga kini masih tampak jelas, tidak ada upaya rehabilitasi, sehingga sekarang situasinya semakin kacau karena di saat terjadi konflik hingga lengsernya Perdana Menteri Mari Al-Katiri beberapa bulan lalu, banyak bangunan yang dibakar sehingga suasana kota Dili kian mencekam. Kondisi itu banyak mengakibatkan pengusaha yang datang dari Indonesia terpaksa meninggalkan kota-kota di Timor Leste, karena sudah tidak tahan. Menurut cerita Ny. Domingos, selain mereka terpaksa mengalami kerugian besar karena tempat usahanya banyak yang dijarah pada saat kerusuhan, merekapun tidak tahan menghadapi ganasnya pertikaian antar kelompok yang hingga kini belum bisa diatasi aparat keamanan yang dibantu tentara asing.
|
|
ROKOK KRETEK
Jakarta, Indonesia
|
"Konflik perang saudara sekarang lebih sadis dibanding saat jajak pendapat dulu, membunuh sesama warga Timor Leste yang berbeda kelompok kerap terjadi, bahkan wanita hamilpun tidak segan-segan dibunuh," katanya.
Fasilitas kesehatan minim
Mengenai fasilitas kesehatan, Ny. Domingos menyatakan rumah sakit peninggalan Pemerintah Indonesia di Bidau itu tidak optimal, karena tenaga dokternya sangat minim dan tidak jarang mereka lari berobat ke Kupang (NTT).
Bagi keluarga yang kurang mampu, tentunya bisa dibayangkan ke mana mereka akan pergi berobat, sedang yang datang berobat ke Kupang itu adalah keluarga yang punya banyak uang.
Sedangkan rumah sakit milik TNI dulu, kini diperuntukkan bagi warga asing yang bertugas di Timor Leste, jadi fasilitas kesehatan masyarakat sangat minim.
Suasana keamanan yang kurang kondusif tersebut diperkirakan kian memanas, sehubungan akan dilangsungkannya Pemilihan Umum tahun 2007.
"Banyak warga Timor Leste yang ingin keluar, tetapi terbatas oleh penjagaan yang kian ketat di daerah perbatasan, demikian juga pengusaha dari Atambua ke Dili kian jarang karena mereka takut," katanya.[ant/cha]
|
|
ROKOK KRETEK
Jakarta, Indonesia
|
Judged:
1
Life become worse after independence, Better reunite with democratic and prospective Indonesia someday.
|
|
“you`re better than life itself”
Joined: Feb 8, 2008
Comments: 636
Love Always!
ISP:
Chicago, IL
|
don`t ever to regret your freedom,
use your chance now.
God bless your land!
:)
|
|
indie
Jakarta, Indonesia
|
is it really a freedom? or just c**p, to much intervention
|
|
capitalism
Satellite Provider
|
this is all about http://asianenergy.blogspot.com/2007/09/austr... "Increasing dependence on Australia for food, safety, divided politically and with an economy in tatters, analyst believes that East Timor may be on a path to becoming a failed state."
|
|
“you`re better than life itself”
Joined: Feb 8, 2008
Comments: 636
Love Always!
ISP:
Chicago, IL
|
let them be happy, please.
God bless East Timor!
:)
|
|
Mario
Jakarta, Indonesia
|
|
|
|
|
Kate
Brisbane, Australia
|
aku tidak pernah menyesali kemerdekaan.... dan tidak akan pernah karena semua yang terjadi adalah bagian dari proses pembentukan diri untuk negara yang baru. Hanyalah orang yang pesimistik yang menyesali apa yang telah dipilihnya karena dia mungkin bermimpi terlalu tinggi tanpa melihat hambatan yang akan terjadi akibat dari pilihannya. Jadi optimislah.... badai pasti berlalu...
|
|
Nina
Oxford, UK
|
It is true kate. I will never and ever regret with my lovely country independence. I do believe what's happened now will be recover. Be optimistic God always bless our homeland.
|
|
“you`re better than life itself”
Joined: Feb 8, 2008
Comments: 636
Love Always!
ISP:
Chicago, IL
|
Nina wrote: It is true kate. I will never and ever regret with my lovely country independence. I do believe what's happened now will be recover. Be optimistic God always bless our homeland. :) I believe God always bless us
|
|
Kate
Brisbane, Australia
|
Thanks Nina and Father can speak for supporting my idea... we eastimorese need to support each other to get out from this crisis...so we can show to the world that we can do something for a better future...cause WE ARE ONE! EASTIMORESE!
|
|
Kangmas Prabu
Jakarta, Indonesia
|
Judged:
1
Aemoga timor leste tak kan maju
|
|
Timor
Manila, Philippines
|
Judged:
1
Sebaliknya..........Timor Leste akan maju and makmur. Are you jealous??? Kangmas Prabu wrote: Aemoga timor leste tak kan maju
|
|
Lacataru
Australia
|
Judged:
1
ROKOK KRETEK wrote: Life become worse after independence, Better reunite with democratic and prospective Indonesia someday. Don't make provocative comments here, please!
|
|
Kate
Brisbane, Australia
|
Kangmas Prabu wrote: Aemoga timor leste tak kan maju Aduuuh...sakit hatinya dihilangin dong!!! entar cepat tua!!!
|
|
Pinoy
Manila, Philippines
|
Yes, I WATCHED THIS VIDEO AND I FEEL THAT INDONESIA SITUATION IS WORSE THAN EAST TIMOR! i NEVER SEE ALFREDO DID THIS TO LITTLE CHILDREN AND WOMEN! THE REBEL FOUGHT AGAISNT GOVERNMENT BUT EXCLUDE WOMEN AND CHILDREN! WHAT A SHAME ON INDONESIA! BY looking at this video, of course timor will never want to go back to indonesia! The incident in Dili is just a small incident which a part of Timor's process of democratic implementation!
|
|
Michael Sidney
Australia
|
ROKOK KRETEK wrote: Life become worse after independence, Better reunite with democratic and prospective Indonesia someday. Indonesia has borrowed money from IMF and Government of Japan to the tune of US$ 1,000.00 billion . It's been predicted by worldclass economists, Indonesia will never been able to pay all its loan until the end of the world.
|
|
google translation
Kihei, HI
|
Michael Sidney wrote: <quoted text> Indonesia has borrowed money from IMF and Government of Japan to the tune of US$ 1,000.00 billion . It's been predicted by worldclass economists, Indonesia will never been able to pay all its loan until the end of the world. Is that a correct number ?, 1 Trillion US$? are you sure ? any website that I can read?
|
|
Kate
Brisbane, Australia
|
Masyarakat yang Mana???? Bung... Masyarakat yang memilih otonomi...Pasti... karena mereka tidak punya prinsip ROKOK KRETEK wrote: Masyarakat Timor Leste Mulai Sesali Perpisahan Dengan NKRI Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail Jumat, 24 November 2006 Masyarakat Timor Leste merasa menyesal harus memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Repubkil Indonesia (NKRI) melalui referendum Hidayatullah.com --Sebagian besar masyarakat Timor Leste yang memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Repubkil Indonesia (NKRI) melalui referendum mulai menyesali perpisahan tersebut. "Yang menikmati kemerdekaan Timor Leste hanyalah kelompok tertentu saja, sementara kehidupan mayoritas masyarakat Timor Leste yang tersebar di berbagai pelosok desa kian menderita, ketidakstabilan keamanan terjadi hingga saat ini," kata Ny. Domingos kepada wartawan di Mataram, Jumat. Ny. Domingos yang kebetulan datang berkunjung ke Mataram guna menjenguk saudaranya menuturkan kehidupan masyarakat Timor Leste setelah merdeka dibandingkan saat menjadi bagian integral dengan NKRI, sangatlah memprihatinkan. Sebagian besar penduduk pedesaaan Timor Leste yang hidup di masa integrasi dengan NKRI merasa menyesal, mereka berkeinginan untuk kembali merasakan hidup bebas seperti dulu. Masyarakat Timor Leste dalam dua tahun terakhir merasakan hidup tidak aman di negaranya sendiri, karena pertikaian antara kelompok, khususnya masyarakat Timor Leste bagian Timur dengan masyarakat Timor Leste bagian Barat hingga saat ini belum reda. Hampir setiap hari terjadi pertikaian kelompok yang menyebabkan tewasnya sejumlah warga Timor Leste. Suasana itu telah menyebabkan banyak pengusaha dari Indonesia (Jakarta, Surabaya, Kupang dan Atambua) yang terpaksa meninggalkan kota Dili. Di samping itu, biaya hidup di negara Timor Leste yang baru merdeka tersebut cukup tinggi, harga BBM jenis premium maupun minyak tanah harganya lebih dua kali lipat dari harga yang ada di Indonesia. Harga eceran premium bisa mencapai 2,5 dolar US atau setara dengan Rp15.000 per liter, demikian juga harga minyak tanah bisa mencapai hampir Rp10.000/liter, sehingga minyak tanah banyak yang didapat dari daerah perbatasan melalui para pelintas batas. "Kondisi kehidupan mereka yang kian sulit itu menyebabkan sebagian dari mereka sering mengungkapkan rasa penyesalan berpisah dengan NKRI, karena di masa integrasi masyarakat Timor Leste memiliki kehidupan yang lebih baik, padahal tujuan mereka merdeka sebelumnya agar mendapatkan kehidupan yang lebih dibanding sebelumnya," katanya. Menjawab pertanyaan, Ny. Domingos mengemukakan hingga kini belum ada perubahan pembangunan yang dilakukan pemerintahan Presiden Xanana Gusmao, karena bangunan-bangunan yang terbakar di masa jajak pendapat tahun 1999, tidak satupun yang diperbaiki. Bangunan peninggalan orang-orang Indonesia tersebut hingga kini masih tampak jelas, tidak ada upaya rehabilitasi, sehingga sekarang situasinya semakin kacau karena di saat terjadi konflik hingga lengsernya Perdana Menteri Mari Al-Katiri beberapa bulan lalu, banyak bangunan yang dibakar sehingga suasana kota Dili kian mencekam. Kondisi itu banyak mengakibatkan pengusaha yang datang dari Indonesia terpaksa meninggalkan kota-kota di Timor Leste, karena sudah tidak tahan. Menurut cerita Ny. Domingos, selain mereka terpaksa mengalami kerugian besar karena tempat usahanya banyak yang dijarah pada saat kerusuhan, merekapun tidak tahan menghadapi ganasnya pertikaian antar kelompok yang hingga kini belum bisa diatasi aparat keamanan yang dibantu tentara asing.
|
|
|